Breaking News
Loading...
2013-10-24

Deklarasi Gapoktan Semangai: Wujud Optimisme Petani Karet di Kapuas Hulu

Penandatanganan Deklarasi Semangai. - Doc : LPSAIR
KAPUAS HULU – Sejumlah petani karet di Desa Tanjung, Kecamatan Mentebah, Kabupaten Kapuas Hulu mendeklarasikan secara resmi berdirinya Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) pada September lalu (27/9) dengan nama Gapoktan Semangai. Disaksikan oleh sejumlah aparat desa, ketua dan tokoh adat setempat, kepala dusun (3 dusun) dan sekitar 35 orang perwakilan dari 3 kelompok tani karet se-Desa Tanjung, serta perwakilan dari WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat.  
Gerakan para petani karet ini didasari oleh adanya kesadaran bahwa mutu bahan olah karet rakyat (bokar) sangat menentukan daya saing karet alam Indonesia. Kepala Desa Tanjung, P. Dingo, mengatakan dengan mutu bokar yang baik akan terjamin permintaan pasar jangka panjang.
“Maka dari itu lah, upaya perbaikan mutu bokar harus dimulai dari penanganan di kebun, pengangkutan, sampai di tahap penyimpanan dan pengolahan akhir,” ungkapnya.
Dikatakan pula oleh pendamping petani dari WWF-Indonesia Program Muller Scwhaner, Uray M. Hasbi,  bahwa 2 tahun lalu saat pertama kali datang ke Desa Tanjung, ditemukan fakta bahwa sistem pemasaran karet rakyat umumnya belum terorganisasi dengan baik dan kurang efisien. Hal itu disebabkan karena lokasi kebun karet rakyat yang tersebar dalam luasan yang sempit, rantai pemasaran yang panjang, dan mutu bokar yang rendah serta beragam.
“Data awal kita mengatakan bahwa umumnya bokar atau kulat yang dihasikan masyarakat Desa Tanjung masih didasarkan atas berat basah, sehingga bokar yang diperdagangkan hanya berkadar 40 – 50 %, selebihnya adalah air dan kotoran. Kondisi ini akan menyebabkan biaya angkut yang tinggi dan ada resiko susut yang harus ditanggung oleh pengumpul, dan pada akhirnya berpengaruh terhadap harga yang diterima petani. Artinya, dengan semakin besarnya biaya dan jasa pemasarannya, maka harga yang diterima petani semakin rendah,” papar Hasbi.
WWF-Indonesa mencoba membangun kesadaran dan kapasitas petani di Desa Tanjung melalui pengembangan dan penguatan 3 kelompok tani.
“Para petani didorong untuk melakukan sekolah lapang karet sejak pertengahan tahun 2012, kemudian ditindaklanjuti dengan pengembangan pusat belajar pembibitan karet unggul, dan pada bulan Agustus 2013 lalu dilakukan Studi Potensi Produksi Karet Se-Desa Tanjung, dan terakhir di bulan September tahun ini juga dilakukan pelatihan tentang bagaimana petani dapat membuat standar sendiri tentang karet bersih kelas satu yang sesuai permintaan pasar dan aturan yang ada,” jelas Hasbi lagi.
Gapoktan Semangai sendiri lahir dengan tujuan sebagai penyedia (produsen) karet bersih menurut standar, menjadi mitra para pihak (pemerintah, perusahaan, LSM, pemerintah desa dan perorangan) dalam mewujudkan Gerakan Nasional Bokar Bersih (GNBB) yang diberlakukan oleh Kementerian Pertanian sejak tahun 2009, dan menjadi lembaga pemasaran bersama karet bersih yang berasal dari Desa Tanjung dan sekitarnya.
Ketua Gapoktan Semangai, P. Sabang, mengatakan bahwa salah satu cita-cita Gapoktan Semangai adalah menjadikan Gapoktan ini sebagai lembaga pemasaran melalui fungsi pemasaran bokar bersih.
”Cita-cita kelompok ini adalah petani bisa mempunyai akses langsung ke pihak pabrik pengolahan karet, terhadap produksi karet/kulat bersih melalui skema pemasaran bersama,” jelasnya.
Para petani karet bertekad akan melakukan pengumpulan, penyimpanan, pengangkutan dan pengolahan karet bersih dengan cara membuat standarisasi di lingkup internal petani yang mengacu pada Permentan Nomor 38 tahun 2008 tentang Pedoman Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet (Bokar); dan Permendag Nomor 53 tahun 2009 tentang Pengawasan Mutu Baha Olah Komoditi Ekspor Standard Indonesia Rubber (SIR) yang Diperdagangkan.
Melihat tingginya semangat masyarakat Desa Tanjung ini, ketua adat setempat, Nyalong, secara khusus menggelar tradisi melantunkan syair lama (manimang) di akhir kegiatan sebagai tanda syukur dan ucapan terima kasih kepada semua yang terlibat dalam kegiatan ini. Ia manimang sekitar 10 menit, dan ketika ditanya apa isi dari lantunan syair tersebut ia mengatakan bahwa ia merasa terharu karena setelah usianya menginjak 50 tahun baru mendapat bimbingan pengetahuan tentang budidaya karet (unggul dan lokal).
”Saya terharu, setelah mengenal tanaman karet sejak kecil, baru sekaranglah saya dapat bimbingan bagaimana cara membuat (red. budidaya), memelihara dan memanen karet dengan baik,” kata Nyalong berkaca-kaca.
Ia pun menghimbau kepada Bupati Kapuas Hulu untuk mendukung program budidaya karet rakyat yang sedang berjalan ini.(releases)

Copyright © LPSAIR 2013 - Borneoclimatechange

0 komentar :

Post a Comment

Back To Top