Breaking News
Loading...
2013-07-10

Bekantan 14 Tahun Lagi Akan Punah

13732723491889453487
Bekantan Jantan di hutan rawa gambut Pematang Gadung, foto dok. Abdurahman Al Qadrie/ BSYOK/KBK



Bekantan atau orang biasa menyebutnya si hidung mancung merupakan salah satu satwa yang sebaran habitanya terdapat di hutan rawa gambut, tepatnya mereka mendiami tepi-tepi sungai. Dari tahun ke tahun populasi bekantan jumlah populasi dan habitatnya semakin menurun bahkan diperkirakan dalam kurun waktu 14 tahun lagi bekantan akan punah akibat habitat mereka yang semakin terancam.
Pohon-pohon di tepi sungai menjadi tempat favorit bekantan saat pagi dan sore tiba. Bekantan memilih waktu di pagi hari untuk mencari makan dan di sore hari mereka berkelompok berkumpul dan bercengkrama di tepian sungai untuk mencari tempat tidur menjelang malam. Saban hari (setiap hari-red) mereka rutin melakukan aktivitas ini.
1373272912822608798
Bekantan Jantan, Foto dok. Abdurahman Al Qadrie/ BSYOK/KBK
Habitat Terancam menjadi salah satu kekhawatiran bekantan sulit untuk bertahan hidup. Saat ini, populasi dan habitat (tempat hidup-red) bekantan semakin terancam. Berbagai aktivitas manusia salah satunya. Laju kerusakan hutan yang semakin sulit di cegah di wilayah hutan sekitar sungai hutan rawa gambut untuk perkebunan, pertanian dan pembangunan menjadi faktor pendorong bekantan sulit bertahan. Pohon-pohon di tepian sungai yang menjadi tempat nyaman hidup mereka hidup kian terkikis oleh ulah manusia yang mengambil atau memanfaatkan kayunya sebagai kebutuhan hidup untuk bahan bangunan dan kayu bakar.
Tidak hanya itu, menurut Abdurahman Al Qadrie, ketua pengamat burung dan bekantan dari Kelompok B’syok, mengatakan; secara kasat mata habitat hidup bekantan yang hidup di hutan rawa gambut semakin hari semakin terancam. Salah satu bukti nyata keterancaman habitat dan populasi bekantan dapat terlihat dari sumber ketersediaan pakan atau makanan mereka berupa daun, buah, pucuk dan bunga dari pohon nyatoh/ ketiau atau dalam bahasa latinnya Palaquium, spp atau Ganua, spp, kayu malau/Diospiros, spp (daun, buah, pucuk dan bunga), pohon rasau, jenis Pandanus, spp (umbut dan pucuk) sudah semakin sedikit yang tersisa di hutan rawa sekitar sungai. Lebih lanjut Doy, akrab disapa mengatakan; melihat situasi ini, sudah barang tentu dalam kurun waktu 14 tahun lagi bukan tidak mungkin bekantan atau dalam bahasa latinnya Nasalis larvatus akan punah.
Bekantan merupakan satwa endemik, populasi dan habitatnya tersebar di beberapa tempat, di beberapa tempat seperti di Kalimantan/ Pulau Borneo, Indonesia dan di beberapa tempat lain luar negeri seperti di Brunai dan Malaysia.
13732726281944257597
Bekantan hidup berkelompok di tepian sungai, foto dok. Abdurahman Al Qadrie/ BSYOK/ KBK
Di Kalimantan sebaran bekantan atau dalam bahasa Inggris di sebut Proboscis Monkey, sebaran di Kalimantan Barat, seperti di tepian sungai, seperti di Taman Nasional Danau Sentarum. Di Ketapang sebaran bekantan terdapat di wilayah hutan rawa gambut Pematang Gadung, Sungai Putri, Sungai Pawan dan di tepian sungai Perawas, Matan, Batu Barat di sekitar tepian sungai Taman Nasional Nasional Gunung Palung.
Bekantan memiliki terdiri dari dua subspecies yakni Nasalis larvatus larvatus, tersebar di Seluruh bagian pulau Kalimantan dan Nasalis larvatus orentalisi terdapat di bagian timur laut dari pulau Kalimantan.
Ciri-ciri bekantan dan habitat hidup. Bekantan memiliki hidung mancung dan besar pada jantan, dengan demikian bekantan disebut monyet belanda. Ukuran bekantan jantan kurang lebih 75 cm, dengan berat badan dapat mencapai 24 kg. Sedangkan Ukuran bekantan betina kurang lebih 60 cm, dengan berat badan dapat mencapai 12 kg. Bekantan betina memerlukan waktu 5-6 bulan masa kehamilan dan hanya melahirkan satu ekor anak dalam sekali masa kehamilan. Setelah melahirkan, anak bekantan akan tinggal bersama induknya hingga menginjak dewasa (berumur sekitar 4-5 tahun). Di Habitatnya, bekantan hidup berkelompok dan masing-masing kelompok dipimpin oleh seekor bekantan jantan. Biasanya dalam setiap kelompoknya berjumlah 10-25 ekor, mereka tinggal di tepian sungai.
1373272841815477046
Mamalia jenis ini dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar tahun 1931 dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999. Dok. Abdurahman Al Qadrie
Sejak tahun 2000, badan konservasi memasukan bekantan sebagai satwa dilindungi dan memasukan dalam status Endangered (terancam punah), Bekantan juga masuk dalam daftar CITES sebagai Apendix I (tidak boleh di perjualbelikan/diperdagangkan baik nasional maupun international). Menurut data tahun 2008, diperkirakan tinggal tersisa sekitar 25000 ekor atau dapat dikatakan jumlahnya semakin menurun drastis dari tahun ke tahun sejak tahun 1987 yang jumlahnya mencapai 260.000 ekor. Mudah-mudahan populasi dan habitat bekantan masih bisa bertahan, dengan kepedulian dan kesadaran semua secara bersama pula. Semoga saja…
By : Petrus Kanisius “Pit”- Yayasan Palung

0 komentar :

Post a Comment

Back To Top