Breaking News
Loading...

Media News

Tech News

Random Post

Recent Post

2014-01-18
no image

Hutan Adat Pengajit Penghasil Mentega Hijau

Damianus Nadu,penggagas kawasan Hutan Adat Pangajid,Desa Sahan,Kabupaten Bengkawang,sedang memenggang buah tengkawang Layar. - Doc : LPSAIR
BCC.Bengkayang. Berbagai jenis Buah-buahan yang bertaburan  dikawasan hutan adat Pengajit mulai berkecambah secara alami tanpa sentuhan tangan manusia apa lagi para ahli. Kuncup-kuncup daun bewarna kuning kemerah-merahan mulai tumbuh.
Buah tengkawang yang berguguran, belum dipanen penduduk sekitar kawasan hutan adat mendominasi kecambah-kecampah tumbuh dalam kawasan hutan.
Sambil mengamati buah-buah tengkawang yang menguntai di atas pohon,kami harus berhati-hati berjalan dalam kawasan,jangan sampai buah-buah yang mulai berkecambah sebagai cikal bakal pohon menjadi mati karena terinjak.
Suara binatang hutan saling bersautan terutama suara berbagai jenis burung. Pohon Tengkawang,Rengas,Bintanggor,Meranti,Kayu Belian berukuran besar,berbagai jenis angrek dan tanaman obat-obatan seperti pasak bumi dan lain-lain berdiri kokoh tanpa ada yang berani menebangngnya,pohon tengkawan diperkirakan diameternya ditempat tersebut berukur 1 meter menjulang tinggi sekitar  40 meter , buah-buahnya berguguran,bertamburan  tanpa dipungkut oleh warga sekitar. 
Menurut Damianus Nadu penggagas kawasan Hutan Adat Pengajit,dulunya ini bukan kawasan hutan adat, kawasan hutan ini biasa ditebang oleh warga,cuman saya dipesan oleh Nenek dan Paman saya supaya disini ada kawasan hutan adat,maka kami dengan dibantu beberapa orang kampung mempertahankan kawasan hutan ini dan menjadi kawasan hutan adat.
“Banyak tantangan yang dihadap Nadu,ketika mempertahankan kawasan ini menjadi kawasan hutan adat. Banyak perusahaan  yang merayu dan memaksa kami untuk di eplotasi kayunya,ataupun menjadi lahan perkebunan,”jelas Nadu.
Nadu mengatakan,kami sempat ikut pertemuan dalam ruangan tersebut ada Kapolsek,Koramil,Kepala Desa,dan pihak perusahaan,pada saat itu saya langsung buka baju dan pukul meja,tanda tidak setuju kawasan itu diekpoltasi.
“Kami tidak setuju kawasan hutan adat Pangajit mau diekplotasi,ini titipan nenek moyang kami dan untuk diwariskan pada anak cucu kami,bukan untuk perusahaan,sampai titik darah terakhir kami harus mempertahankanya,”Nadu menceritakan pengalam pertemuan dengan pihak perusahaan,Polsek,Koramil,Camat,Investor  dan Aparat Desa.
Bahkan masyarakat sekitar sempat menembak dengan senjata lantak, alat-alat berat milik perusahaan yang mencoba mengeplotasi kawasan tersebut.
“Hingga pemerintah kabupaten mengeluarkan SK 131 tahun 2002, menjadi kawasan hutan adat Pengajit dengan luas 100 hektar, pada tanggal 17 Septeber 2002 dan dikukuhkan 15 oktober 2002,”kata Nadu.
Dulu kawasan hutan adat tersebut luasnya 200 hektar,karena ada kawasan milik masyarakat maka kawasan tersebut berkurang menjadi 100 hektar.
Untuk memperjelas batas antara kawasan adat dan kawasan masyarakat,masyarakat sekitar membuat patok-patok yang terbuat dari semen dan kayu belian,dan satu patoknya terdapat tanda tangan Bupati Bengkayang tahun 2002 Yakobus Luna.
Menurut Ateh kepala Dusun Melayang,tanah warga yang dulunya masuk kawasan hutan adat tetap dijadikan kawasan hutan warga sekitar tidak boleh berladang kawasan tersebut,tetapi hanya dibolehkan melakukan kegiatan menoreh karet,buah-buahan,tanaman oba-obatan dan kayu untuk kepentingan pembuatan rumah sendiri ,bukan untuk diperjual belikan.
“Masyarakat mendukung kebijakan kampung tersebut,”kata Ateh.
Cornelius Tanduk mengatakan,Kepala Desa Sahan luas wilayah 122,5 km persegi,jumlah penduduk 4593 Jiwa, terdiri dari enam dusun,Hutan adat ini berada Dusun Melayang Desa Sahan Kecamatan Seluas, potensinya sangat beragam,penduduknya beragam,potensi terbesar adalah lada,jagung,karet,sayur- mayur  dan buah-buah tengkawang, dilingkungan hutan adat ini punya potensi yang sangat berguna bagi keberlangsung bagi manusia baik sebagai kawasan konservasi maupun sebagai kawasan wisata.
Di keliling hutan adat ini ada enam air terjun yang air tejunya berasal dari kawasan hutan adat ini,sangat potesi untuk dikembang,sebagai obyek wisata.
“Turis dari manca negara sering datang kesini,terutama dari Malaysia,cuman sangat kurang dari dukungan pemerintah,pada waktu diresmikan kawasan hutan ini dijanjikan akan ditingkatkan jalanya,setelah dikukukan oleh pemerintah setelah diberi SK pemerintah tidak ada membantu,”kata Tanduk.
Sebagai Kepala Desa,kami telah membentuk kelompok Masyarakat Peduli Hutan Adat,kelompok masyarakat ini lah yang melindungi kawasan ini,pohon-pohon yang boleh diambil adalah pohon yang sudah roboh,inipun untuk kepentingan gereja,sekolah,ataupun untuk membangun rumah orang kampung,intinya tidak boleh diperjualkan,mereka berpatroli setiap minggunya.
................................................
Nadu menceritakan, walaupun pohonya tidak ditebang,tetapi warga masih bisa memamfaatkanya secara ekonomi,masyarakat bisa memamfaatkan buah tengkawang yang sudah berjatuhan dalam kawasan hutan adat, seluruh masyarakat disekitar kawasan hutan adat boleh memanenya.
“Disini terdapat banyak jenis tengkawang,seperti tengkawang tungkul,tengkawang layar,tengkawang pangapeg, terindak,tengkawang layar banyak airnya. Tengkawang  tumbuh secara alami,”terang Nadu.
Buah tengkawang disini umunya dibuat mentega dan minyak yang dibuat secara tradisional oleh warga,sebagian buah dan menteganya dijual ke Malaysia,karana kawasan ini dekat berbatasan dengan Malaysia.
Nadu menceritakan, panenya pohon  tengkawang dikawasan ini setiap tahun ,buah tengkawang disini dijual buahnya dan dibuat minyak atau mentega,kalau musim seperti ini belum ada masyarakat yang mengambil,karena masyarakat masik sibuk natalan dan menyambut tahun baru.
“Cara memanen kawasan hutan adat ini  diambil buahnya yang sudah gugur,semua warga bebas memanenyadipanen,buah yang dipanen yang sudah jatuh kebawah,warga dilarang memanjat untuk memanen buah dikawasan hutan adat ini,”kata Nadu.
“Hasil panen buah tengkawang dikawasan ini dijual ke Bengkayang dan sebagian dijual ke negara tetang Malaysia,karena membeli dengan harga lebih mahal,”kata Nadu.
Warga Desa Sahan selain memanen buah tengkawan dikawasan hutan adat,mereka juga menananam ditanah mereka masing-masing.
Hasil panen buah tengkawang ada yang dijual langsung buahnya dan ada yang dibuatn mentega,buahnya sekilo sekitar Rp.3.000,-Rp.4.000,- dijual ke Kota Bengkayang,atau dijual ke Malaysia,karena wilayah hutan adat Pangajid berdekatan dengan Malaysia.
Banyak juga buah Tengkawang yang diproduksi langsung oleh menjadi mentega dan minyak,yag dikelola secara sangat tradisional,hanya dengan modal drum,pengapit kayu belian mereka memproduksi mentega dari buah Tengkawang,hasil produknya dikonsumsi sendiri,sebagian dijual keluar negeri melalui Malaysia.
Syamsuri anggota Pelestarian Hutan Andalan yang sedang melakukan peninjauan dikawasan hutan pengajid mengatakan,kawasan hutan ini cukup unik bisa menghasilkan buah tengkawang setiap tahun berbeda dikawasan hutan lainya empat sampai lima tahun baru bisa panen.
“Buah tengkawan yang bisa menghasilkan mentega hijau,umunya menteganya diekspor ke Swis untuk dijadikan bahan dasar coklat yang paling mahal di Erofa sana tapi yang melakukanya adalah negara Malaysia, sangat sayang apabila kita tidak memamfaatkanya dengan baik,”jelas Syamsuri.
..................................
Hampir setiap bulan para ilmuwan melakukan  penelitian dikawasan ini,dari mulai Universitas di Jawa terutama dari Jokya dan dan Bogor, termasuk mahasiswa kehutanan Universitas Tanjungpura melakukan penelitian didaerah ini.
“Kawasan ini bukan kawasan hutan adat yang milik masyarakat adat disekitar,tetapi masayarakat di Indonesia,mereka melakukan penelitian dikawasan ini,bahkan ada yang sampai 2 bulan meraka melakukan penelitian disini,”kata Nadu.
Nadu menceritkan,mereka mengambil berbagai jenis bibit dari kawasan ini seperti bibit tengkawang,terindak,meranti dan berbagai jeni bibit lainya,yang akan ditanama didaerah lain.
“Perhatian pemerintah saat ini tidak ada,mereka hanya mengelurkan SK Kawasan hutan adat  saja,selain itu mereka tidak ada memberi bantuan apa-apa,”kata Nadu.(D.Men)

Copyright © LPSAIR 2014 - Borneoclimatechange
2013-12-23
no image

Radio Komunitas GEMA SOLIDARITAS Raih Anugerah KPID AWARD 2013


CIMG3326-1

Pontianak Tanggal 31 Mei 2013 yang lalu bertempat di Hotel Kapuas Palace Pontianak diadakan malam Anugerah KPID Award bagi lembaga penyiaran yang diselenggarakan oleh KPID Kalimantan Barat. Kegiatan yang diikuti oleh lembaga penyiaran televisi, Radio Swata juga Radio Komunitas.
Faizal Reza, ST Ketua KPID Kalimantan Barat mengungkapkan kegiatan ini sebagai bentuk apresiasi dan motivasi bagi lembaga serta pelaku penyiaran untuk menyajikan materi yang sehat dan bermanfaat bagi masyarakat. Salah satu kategori yang dilombakan adalah Radio Komunitas, yang dimenangkan oleh Rakom Gema Solidaritas Ketapang.
2013-10-25
no image

Pontianak, Kekurangan Air Bersih di Tengah Air Sungai yang Berlimpah

Peta 3 kali pemompaan dari Intake Cadangan Penepat ke IPA Utama Imam Bonjol, saat musim kemarau - Doc : LPSAIR
Adalah suatu berkah yang luar biasa bagi Kota Pontianak. Berada di posisi strategis tepat di persimpangan tiga sungai, yakni Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil dan Sungai Landak.
Sungai Kapuas yang notabene merupakan sungai yang terpanjang di Indonesia, memiliki debit rerata yakni 7.624,453 m3/det dengan luas DAS sekitar 16.044 km2.
Secara logika, warga yang bermukim di Pontianak tidak akan kekurangan air bersih atau air minum. Namun kenyataan pahit harus ditelan oleh warga Pontianak. Kebutuhan air minum/bersih masih belum bisa dipenuhi oleh PDAM Kota Pontianak. Mengapa hal ini sampai terjadi?
Saat ini, sumber air baku yang digunakan PDAM Kota Pontianak berasal dari Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Dari segi KUANTITAS, ketersediaan air baku memang sangat berlimpah, namun dari segi KUALITAS, sumber air baku Kota Pontianak terancam intrusi air laut pada tahun normal dan tahun kering di musim kemarau. Selain itu, air tanah di Kota Pontianak merupakan air gambut yang berwarna dan bersifat asam, sehingga membutuhkan proses pengolahan lanjut.
Pada kondisi eksisting, di musim kemarau tahun normal, intake air baku di Kota Pontianak terintrusi air laut. Sehingga pengambilan air baku DIALIHKAN ke daerah hulu, di Intake Cadangan Penepat, yang ada di Sungai Landak, berjarak sekitar 24 Km Kota Pontianak (dari IPA Utama Imam Bonjol).
Dengan topografi kawasan yang relatif datar, akibatnya pengaliran air tidak bisa dilakukan secara gravitasi. Sehingga transmisi air baku dilakukan dengan pemompaan sebanyak 3 kali, yakni di Intake Penepat, di booster pump Mandor, dan di booster pump Parit Adam. Hal ini mengakibatkan peningkatan biaya yang harus dikeluarkan oleh PDAM Kota Pontianak.
Dalam satu bulan saja, PDAM Kota Pontianak harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 700.000.000. Dengan durasi terjadinya intrusi air laut yang mencapai 4 bulan, maka total biayanya mencapai Rp. 2,8 Milyar (Data dari PDAM Kota Pontianak). Biaya yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan air bersih Kota Pontianak.
Sayangnya, pengalihan sumber air baku di Intake Penepat tersebut, hanya bisa memenuhi 30% kebutuhan air bersih pelanggan PDAM Pontianak karena terbatasnya dimensi pipa transmisi, belum lagi akibat kebocoran pipa yang melewati tanah dengan zat asam yang tinggi.
Tak jarang, saat kemarau PDAM Pontianak akhirnya terpaksa mengalirkan air asin yang terinstrusi air laut, ke pelanggan, karena air adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. (Laili Fitria)
Copyright © LPSAIR 2013 - Borneoclimatechange
2013-10-24
no image

Polres Lombok Timur Keluarkan Surat Edaran Senpi Ilegal

Lombok Timur (SK)
Kepolisian Resort Kabupaten Lombok Timur tertanggal 10 Oktober 2013, mengeluarkan surat edaran yang berisi himbauan kepada masyarakat yang memiliki senjata api, senjata berburu dan senjata latihan (air soft gun). Hal ini guna menciptakan suasana Kamtibmas yang kondusif di wilayah Lombok Timur.
Bagi masyarakat yang memiliki senjata yang dimaksudkan, akan diberikan sanksi hukuman maksimal penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tinggi sekitar 20 tahun jika terbukti ilegal. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 1 UU DRT No. 12 Tahun 1951.
Untuk wilayah Desa Kumbang, sangat diharapkan kesadaran masyarakat untuk kooperatif dalam menanggapi isi edaran himbauan yang berasal dari Kepolisian Resort Lombok Timur, ungkap Polisi Masyarakat (Polmas) Desa Kumbang, Minsadil kepada BKL FM di kantor desa (23/10/2013). Ditambahkannya lagi, himbauan tersebut berlaku dari tanggal 25 Oktober hingga 2 November 2013. Jika sampai batas waktu yang sudah ditentukan masih saja belum menyerahkan bagi masyarakat yang memiliki senjata api, maka akan dilakukan tindakan tegas yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
Surat edaran tentang penyerahan senjata api dan sejenisnya yang illegal, ditempel di beberapa titik strategis salah satunya kantor desa. Di samping itu, himbauan tersebut akan tetap disosialisasikan di Radio Komunitas BKL FM. (tr | www.radiobklfm.com)
 
Desa Pampang Harapan Membutuhkan Harapan Para Sukarelawan

Desa Pampang Harapan Membutuhkan Harapan Para Sukarelawan

Salah satu lahan masyarakat yang disiapkan,  rencananya digunakan untuk Untuk Pertanian
Desa pampang ingin mengembangkan pembangunan desa hijau, dengan demikian sangat memerlukan tenaga sukarelawan yang ingin mencurahkan segala tenaga dan pikiran luas tanpa batas, tulus dan ikhlas.

Niat anda akan sangat dihargai untuk :

1. Comunity Development (pengembangan masyarakat dalam semua aspek).
2. Sistem pengairan, 50 ha dan kolam budidaya ikan air tawar.
3.Sistem penerangan (energi ramah lingkungan)

Diperlukan segera kerelaannya, atas perhatian diucapkan terima kasih.

Apabila ada yang berminat, nomor yang bisa di hubungi :    F. Wendy : 089693482735
no image

Mamfaat Buah Pohon Berambang

M Syamsuri aktivis PRCF Menunjukan pohon Berembang dikawasan hutan manggrove TWA Sungai Liku di desa Nibung kec Paloh. - Doc : LPSAIR
BCC. Pohon Berambang (Sonneratia Caseolaris) Pohon berukuran kecil hingga sedang, tinggi sekitar 15 m dan jarang-jarang mencapai 20 m. Tajuk renggang dengan ranting-ranting menggantung di ujung. Serta dengan banyak akar napas yang besar muncul vertikal di sekeliling batangnya, kadang-kadang hingga beberapa meter jauhnya dari batang.
Kerap didapati di hutan-hutan bakau di bagian yang bersalinitas rendah dan berlumpur dalam, di sepanjang tepian sungai dan juga di rawa-rawa yang masih dipengaruhi pasang-surut air laut. Buah pidada terapung dan dipencarkan oleh aliran air
Potensi buah Sonneratia Caseolaris atau buah berambang di kawasan hutan manggrove TWA Sungai Liku di desa Nibung kec Paloh (Sambas ) sangat besar sekali.
”Banyak masyarakat belum mengetahui fungsi buah berembang,”ujar Syamsuri aktivis PRCF Indonesia.
“Manfaat buah berambang bise dibuat sirup, dodol, selai...daun muda (pucuk) bise di lalapan atau buat camporan pecel atau urap,”jelas Syamsuri.(1/10).
Dia mengharapkan, buah pohon, Berambang (Sonneratia Caseolaris) bisa dimamfaatkan untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat disekitar kawasan hutan mangrove.
“Memang tanaman ini hanya tumbuh dikawasan-kawasan yang berlumpur,tetapi tipe hutan mangrove lain juga masih sangat banyak potensinya,”ujas Syamsuri.
Syamsuri menerangkan,pohon berembang di Kal-Bar terdapat dipesisir hutan mangrove Kec. Paloh Kab. Sambas dan pesisir Kec. Batu Ampar.(dh/jw)

Copyright © LPSAIR 2013 - Borneoclimatechange
no image

Deklarasi Gapoktan Semangai: Wujud Optimisme Petani Karet di Kapuas Hulu

Penandatanganan Deklarasi Semangai. - Doc : LPSAIR
KAPUAS HULU – Sejumlah petani karet di Desa Tanjung, Kecamatan Mentebah, Kabupaten Kapuas Hulu mendeklarasikan secara resmi berdirinya Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) pada September lalu (27/9) dengan nama Gapoktan Semangai. Disaksikan oleh sejumlah aparat desa, ketua dan tokoh adat setempat, kepala dusun (3 dusun) dan sekitar 35 orang perwakilan dari 3 kelompok tani karet se-Desa Tanjung, serta perwakilan dari WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat.  
Gerakan para petani karet ini didasari oleh adanya kesadaran bahwa mutu bahan olah karet rakyat (bokar) sangat menentukan daya saing karet alam Indonesia. Kepala Desa Tanjung, P. Dingo, mengatakan dengan mutu bokar yang baik akan terjamin permintaan pasar jangka panjang.
“Maka dari itu lah, upaya perbaikan mutu bokar harus dimulai dari penanganan di kebun, pengangkutan, sampai di tahap penyimpanan dan pengolahan akhir,” ungkapnya.
Dikatakan pula oleh pendamping petani dari WWF-Indonesia Program Muller Scwhaner, Uray M. Hasbi,  bahwa 2 tahun lalu saat pertama kali datang ke Desa Tanjung, ditemukan fakta bahwa sistem pemasaran karet rakyat umumnya belum terorganisasi dengan baik dan kurang efisien. Hal itu disebabkan karena lokasi kebun karet rakyat yang tersebar dalam luasan yang sempit, rantai pemasaran yang panjang, dan mutu bokar yang rendah serta beragam.
“Data awal kita mengatakan bahwa umumnya bokar atau kulat yang dihasikan masyarakat Desa Tanjung masih didasarkan atas berat basah, sehingga bokar yang diperdagangkan hanya berkadar 40 – 50 %, selebihnya adalah air dan kotoran. Kondisi ini akan menyebabkan biaya angkut yang tinggi dan ada resiko susut yang harus ditanggung oleh pengumpul, dan pada akhirnya berpengaruh terhadap harga yang diterima petani. Artinya, dengan semakin besarnya biaya dan jasa pemasarannya, maka harga yang diterima petani semakin rendah,” papar Hasbi.
WWF-Indonesa mencoba membangun kesadaran dan kapasitas petani di Desa Tanjung melalui pengembangan dan penguatan 3 kelompok tani.
“Para petani didorong untuk melakukan sekolah lapang karet sejak pertengahan tahun 2012, kemudian ditindaklanjuti dengan pengembangan pusat belajar pembibitan karet unggul, dan pada bulan Agustus 2013 lalu dilakukan Studi Potensi Produksi Karet Se-Desa Tanjung, dan terakhir di bulan September tahun ini juga dilakukan pelatihan tentang bagaimana petani dapat membuat standar sendiri tentang karet bersih kelas satu yang sesuai permintaan pasar dan aturan yang ada,” jelas Hasbi lagi.
Gapoktan Semangai sendiri lahir dengan tujuan sebagai penyedia (produsen) karet bersih menurut standar, menjadi mitra para pihak (pemerintah, perusahaan, LSM, pemerintah desa dan perorangan) dalam mewujudkan Gerakan Nasional Bokar Bersih (GNBB) yang diberlakukan oleh Kementerian Pertanian sejak tahun 2009, dan menjadi lembaga pemasaran bersama karet bersih yang berasal dari Desa Tanjung dan sekitarnya.
Ketua Gapoktan Semangai, P. Sabang, mengatakan bahwa salah satu cita-cita Gapoktan Semangai adalah menjadikan Gapoktan ini sebagai lembaga pemasaran melalui fungsi pemasaran bokar bersih.
”Cita-cita kelompok ini adalah petani bisa mempunyai akses langsung ke pihak pabrik pengolahan karet, terhadap produksi karet/kulat bersih melalui skema pemasaran bersama,” jelasnya.
Para petani karet bertekad akan melakukan pengumpulan, penyimpanan, pengangkutan dan pengolahan karet bersih dengan cara membuat standarisasi di lingkup internal petani yang mengacu pada Permentan Nomor 38 tahun 2008 tentang Pedoman Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet (Bokar); dan Permendag Nomor 53 tahun 2009 tentang Pengawasan Mutu Baha Olah Komoditi Ekspor Standard Indonesia Rubber (SIR) yang Diperdagangkan.
Melihat tingginya semangat masyarakat Desa Tanjung ini, ketua adat setempat, Nyalong, secara khusus menggelar tradisi melantunkan syair lama (manimang) di akhir kegiatan sebagai tanda syukur dan ucapan terima kasih kepada semua yang terlibat dalam kegiatan ini. Ia manimang sekitar 10 menit, dan ketika ditanya apa isi dari lantunan syair tersebut ia mengatakan bahwa ia merasa terharu karena setelah usianya menginjak 50 tahun baru mendapat bimbingan pengetahuan tentang budidaya karet (unggul dan lokal).
”Saya terharu, setelah mengenal tanaman karet sejak kecil, baru sekaranglah saya dapat bimbingan bagaimana cara membuat (red. budidaya), memelihara dan memanen karet dengan baik,” kata Nyalong berkaca-kaca.
Ia pun menghimbau kepada Bupati Kapuas Hulu untuk mendukung program budidaya karet rakyat yang sedang berjalan ini.(releases)

Copyright © LPSAIR 2013 - Borneoclimatechange
2013-10-07
no image

Dinding SMPN 1 Sandai Bolong


TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Hampir tiap daerah memiliki sekolah favorit begitu juga di Kecamatan Sandai Kabupaten Ketapang. Namun, Sekolah Menegah Pertama Negeri (SMPN) 1 Sandai yang menjadi sekolah favorit para siswa ini mulai rusak.
Sekolah SMPN tertua di Sandai pada tingkat menegah pertama ini dibangun pada 1964 sehingga kondisi ruangannya saat ini ada yang memprihatinkan. Terutama bangunan di tegah sekolah yang dijadikan satu ruang belajar dan lab dindingnya berlubang-lubang.
Dinding SMPN 1 Sandai Bolong"Kondisi bangunnya sudah mulai rusak, kalau dilihat penataannya semeraut. Penataan jaman dulu yang membangun ruangan ditegah-tegah sekolah sehingga tidak bisa digunnakan untuk upacara. Sebab itu kita butuh rehab lebih dari 50 persen, kalau perlu dibangun baru dan ditingkatkan," ungkap Kepala SMPN 1 Sandai, Drs Supran M Mpd saat ditemui wartawan di sekolahnya, Jumat (4/10/2013) kemarin.
"Tiap tahun banyak yang masukkan lamaran dan ingin melanjutkan sekolahnya ke SMPN 1 ini. Tapi karena ruang kelasnya tidak cukup sehingga ratusan pelamar kita tolak," lanjutnya lagi.
Menurutnya saat ini di sekolahnya itu sudah ada lebih kurang 420 peserta didik. Namun gurunya hanya 20 orang yaitu 10 Pegawai Negeri Sipil, dua kontrak, delapan honorer dan tiga staf TU. Serta 11 ruangan kelas belajar, satu ruang guru, satu ruang TU, lima toilet siswa, dua toilet guru dan satu ruang lab.
"Satu toilet guru dan ruang leb sudah tidak berfungsi, sudah tidak bisa digunakan. Saya harap sekolahan ini secepatnya dapat diperbaiki, gurunya segera ditambah," harapnya.
Guru olahraga SMPN 1 Sandai, Hamadi mengatakan dinding sekolah yang berlubang itu sudah lama. Menurutnya ketika ia mulai mengajar sejak tiga tahun silam kondisi itu memang sudah ada. Bahkan kondisi kerusakannya menurutnya semakin tahun semakin bertambah parah.
Penulis: subandi
Editor: Jamadin
2013-09-05
no image

Harga Gabah di Polewali Mandar Anjlok

Harga Gabah di Polewali Mandar Anjlokilustrasi (foto: Antara)
 
 
KBR68H, Polewali Mandar – Harga gabah petani di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, anjlok hingga Rp 300 ribu per 100 kilogram. Penurunan harga ini diduga disebabkan Bulog tidak lagi membeli beras petani karena gudang miliknya penuh. 

Salah satu penyuluh pertanian (PPL), Muhammad Tamrin mengatakan, harga gabah petani turun drastis dari musim panen sebelumnya. Hal ini juga membuat petani resah.

"Katanya itu Bulog sudah tidak terima karena gudang sudah penuh, alasannya pembeli tengkulak-tengkulak. Jadi petani itu sangat resah kasihan karena harga gabah pertama itu sangat mahal kenapa turun drastis sekali," ujarnya.

Muhammad Tamrin menambahkan, pemerintah harus menstabilkan harga dengan menindak tegas para pembeli atau pengumpul yang menetapkan harga sepihak. Selain itu, operasi alat ukur atau timbangan dan larangan menimbang pada malam hari juga harus kembali dilakukan. Pasalnya turunnya harga juga berakibat biaya produksi pertanian juga membengkak. 

Sementara itu, Direktur LBH Sulawesi Barat, Abdul Kadir meminta Unit Pengolahan Gabah Bulog (UPGB) Sub Divre Polmas difungsikan. Ini bertujuan agar hasil panen petani bisa ditampung. 

Kata dia, keberadaan UPGB Sub Divre Bulog Polmas salah satu tujuannya untuk mengurangi kerugian petani dengan membeli gabah hasil panen setiap tahunnya. Hal ini bisa berakibat harga yang ditetapkan pemerintah tetap stabil dan kerugian petani bisa dikurangi.

Editor: Antonius Eko 

no image

Empat Ratus Daerah Belum Punya Lembaga Pemberantas Narkotika

 Empat Ratus Daerah Belum Punya Lembaga Pemberantas Narkotika ilustrasi (foto: Antara)
 
 
KBR68H, Balikpapan – Minimnya jumlah lembaga pemberantas peredaran narkotika di tingkat kota dan kabupaten bisa menghambat upaya pemberantasan peredaran narkotika di tanah air. 

Saat ini dari 500-an kabupaten/kota yang ada di Indonesia, baru 100 pemerintahan kabupaten/kota yang telah mendirikan lembaga pemberantas penyebaran narkotika. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Anang Iskandar mengatakan masih ada 400-an pemerintahan kabupaten/kota yang belum mendirikan lembaga pemberantasan narkotika.

“Kondisi hari ini ada sekitar 100 BNK dari sekitar 500 kabupaten kota yang sekarang ini sudah eksis. Sekitar 400 menyusul, karena BNN sendiri lahir tahun 2009, jadi memang baru. Seiring dengan berjalannya waktu, Insya Allah nanti seluruh kabupaten kota semuanya itu ada Badan Narkotika Nasional, kabupaten kotanya,” kata Anang Iskandar.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Anang Iskandar menambahkan, pemberantasan narkoba bukan hanya dilakukan BNN. Sebab, berdasarkan instruksi Presiden semua kabuapten kota dan provinsi, kementerian dan non kementerian memiliki tanggungjawab yang sama untuk mencegah, memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (P4GN). 

Dia mencatat, pengguna narkoba di Indonesia terus meningkat hingga 100 ribu orang pertahun. Hingga kini ada sekitar 3,8 hingga 4 juta pengguna narkoba berusia dari 10 tahun hingga 59 tahun. Pengguna narkoba tertinggi adalah mereka yang berusia produktif.

Editor: Antonius Eko 

no image

Seluruh Peserta Pilkada Kupang Dituding Ingkar Janji

Seluruh Peserta Pilkada Kupang Dituding Ingkar Janji Ilustrasi
KBR68H, Kupang - Seluruh calon bupati dan wakil bupati Kupang, Nusa Tenggara Timur ingkar janji. Tujuh pasang peserta Pemilukada itu tidak membersihkan alat kampanye berdasarkan perintah Panitia Pengawas Pemilu. Padahal mereka sebelumnya sudah berjanji akan membersihkannya.

Ketua Panwas Pemilukada Kabupaten Kupang, Erens Dae mengatakan panwaslu bersama Satpol PP setempat terpaksa membersihkan alat peraga kampanye yang ada di tempat umum. Padahal pencoblosan akan dilakukan, Kamis besok.

"Yang punya wilayahkan mereka. Sehingga kita memberi kesempatan kepada teman-teman di bawah, di kecamtan lapangan untuk mereka menindaklanjuti apa yang kami sampaikan dari Kabupaten. Sehingga kita lihat kalau belum bersih betul-betul pasti segera berkoordinasi dengan Satpol PP untuk kita keluar melakukan pembersihan. Paling tidak itu di sepanjang jalan Timor Raya,"ujar Erens Dae.

Ketua Panwas Pemilukada Kabupaten Kupang, Erens Dae menambahkan hampir di semua kecamatan di Kabupaten Kupang masih dikotori dengan alat kampanye calon bupati. Hanya di dua Kecematan yang bersih alat kampanye, yaitu kecamatan Amfoang Barat Laut dan Amfoang Utara.


Editor: Suryawijayanti
no image

Lagi, Tiang Jembatan Kapuas I Pontianak Ditabrak Kapal

 Lagi, Tiang Jembatan Kapuas I Pontianak Ditabrak Kapal KBR68H, Pontianak - Tiang pancang pilar utama jembatan Tol Kapuas 1 di Pontianak Kalimantan Barat, kembali tertabrak kapal ponton bermuatan ribuan ton barang, Selasa (3/9) pagi. 

Peristiwa ini merupakan kedua kalinya dalam dua pekan terakhir. Menurut saksi mata Dani, kejadian berawal dari berebut jalan di bawah jembatan antara kapal barang bermuatan BBM dan kapal ponton. Kapal ponton tidak terkendali hingga menghantam tiang penyanggah pilar utama Jembatan Tol Kapuas 1.

“Saya melihat kapal yang membawa beban berat inikan posisinya dari sebelah kanan.  Sedangkan kapal minyak itu posisinya dari sana dari sebelah kiri jembatan tol. Sedangkan, tugboatnya dari jarak 50 meter sudah pakai klakson (tanda peringatan) supaya di sana itu mengambil arah lain. Tapi, ini (kapal AKR-80) tidak mau kalah.” ujar Dani.

Saat ini Jembatan Tol Kapuas 1 ditutup pihak kepolisian untuk seluruh kendaraan. Evakuasi dilakukan terhadap Ponton yang nyangkut di tiang penyanggah pilar utama. Berselang kurang lebih satu jam kedua kapal dievakuasi dan digiring menuju Pol Airut Polda Kalbar. 

Sebelumnya tiang jembatan Kapuas 1 tertabrak pertama kali pada pekan lalu. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mengatakan, pada tabrakan pertama tiang jembatan retak sehingga butuh waktu berbulan-bulan untuk perbaikan.

Editor; Antonius Eko 

2013-07-10
no image

Pelatihan CO Bagi Kelompok Pengrajin Tradisional di Kayong Utara

Sabtu-minggu pekan lalu (6-7 juli 2013), Yayasan Palung mengadakan pelatihan Community Organizer (perorganizeran masyarakat-red) bagi kelompok pengrajin tradisional, hasil hutan bukan kayu di Kabupaten Kayong Utara.
1373346282402328585
Pelatihan CO bagi pengrajin tradisional hhbk. foto 1, dok.YP
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut dihadiri oleh para pengrajin tradisional yang tergabung dalam kelompok-kelompok pengrajin hasil hutan bukan kayu (HHBK), kelompok pengrajin ini merupakan kelompok dampingan dan binaan Yayasan Palung.
Peserta dalam pelatihan ini dihadiri oleh perwakilan dari masing-masing kelompok sebanyak 5 orang peserta yang berasal dari Desa Sejahtera, Desa Pangkalan Buton, Desa Harapan Mulia di Kecamatan Sukadana dan dari Desa Batu Barat, Kecamatan Simpang Hilir, KKU. Pelatihan CO bagi kelompok pengrajin HHBK, juga dalam pelaksanaan mendapat sambutan baik dari perangkat desa di empat desa dampingan Yayasan Palung, hal ini terlihat dari antusias dengan kehadiran Kepala Dusun dan perangkat Pemerintah Desa hadir dalam acara tersebut, dengan demikian jumlah peserta yang hadir berjumlah 20 orang peserta.
1373346555990026081
Pelatihan CO bagi pengrajin, saat penyampaian materi peningkatan kapasitas bagi para pengrajin hhbk. dok, YPPelatihan CO bagi pengrajin, saat permainan/ game, agar peserta tidak jenuh. foto 2. dok. YP
1373346905425962365
Peserta Pelatihan CO, foto 3, dok. YP
Menurut F. Wendi Tamariska, sebagai livelihood coordinator program Yayasan Palung, sekaligus sebagai pendamping bagi para pengrajin tradisional hhbk, pelatihan Community Organizer (perorganizeran masyarakat) ini diselenggarakan dengan tujuan diharapkan anggota-anggota kelompok pengrajin hhbk bisa memahami dan menjalankan tugas serta prinsip-prinsip organiser. Selain itu, peserta dalam pelatihan ini mampu untuk membangun dan menjalankan tujuan kelompok dengan metode organiser.
1373346977206565682
Pelatihan CO bagi pengrajin, peningkatan kapasitas pengrajin. foto 4, dok. YP
Dalam pelaksanaan pelatihan CO tersebut, sebagai trainer adalah F. Wendi Tamariska. Adapun tempat pelaksanaan pelatihan bertempat di kantor Bentangor, Yayasan Palung, di Desa Pampang Harapan.
Pelaksanaan pelatihan CO bagi pengrajin berjalan sesuai dengan harapan dan berjalan sesuai dengan rencana juga mendapat sambutan baik dari peserta pelatihan.
By : Petrus Kanisius “Pit”- Yayasan Palung
no image

Bekantan 14 Tahun Lagi Akan Punah

13732723491889453487
Bekantan Jantan di hutan rawa gambut Pematang Gadung, foto dok. Abdurahman Al Qadrie/ BSYOK/KBK



Bekantan atau orang biasa menyebutnya si hidung mancung merupakan salah satu satwa yang sebaran habitanya terdapat di hutan rawa gambut, tepatnya mereka mendiami tepi-tepi sungai. Dari tahun ke tahun populasi bekantan jumlah populasi dan habitatnya semakin menurun bahkan diperkirakan dalam kurun waktu 14 tahun lagi bekantan akan punah akibat habitat mereka yang semakin terancam.
Pohon-pohon di tepi sungai menjadi tempat favorit bekantan saat pagi dan sore tiba. Bekantan memilih waktu di pagi hari untuk mencari makan dan di sore hari mereka berkelompok berkumpul dan bercengkrama di tepian sungai untuk mencari tempat tidur menjelang malam. Saban hari (setiap hari-red) mereka rutin melakukan aktivitas ini.
1373272912822608798
Bekantan Jantan, Foto dok. Abdurahman Al Qadrie/ BSYOK/KBK
Habitat Terancam menjadi salah satu kekhawatiran bekantan sulit untuk bertahan hidup. Saat ini, populasi dan habitat (tempat hidup-red) bekantan semakin terancam. Berbagai aktivitas manusia salah satunya. Laju kerusakan hutan yang semakin sulit di cegah di wilayah hutan sekitar sungai hutan rawa gambut untuk perkebunan, pertanian dan pembangunan menjadi faktor pendorong bekantan sulit bertahan. Pohon-pohon di tepian sungai yang menjadi tempat nyaman hidup mereka hidup kian terkikis oleh ulah manusia yang mengambil atau memanfaatkan kayunya sebagai kebutuhan hidup untuk bahan bangunan dan kayu bakar.
Tidak hanya itu, menurut Abdurahman Al Qadrie, ketua pengamat burung dan bekantan dari Kelompok B’syok, mengatakan; secara kasat mata habitat hidup bekantan yang hidup di hutan rawa gambut semakin hari semakin terancam. Salah satu bukti nyata keterancaman habitat dan populasi bekantan dapat terlihat dari sumber ketersediaan pakan atau makanan mereka berupa daun, buah, pucuk dan bunga dari pohon nyatoh/ ketiau atau dalam bahasa latinnya Palaquium, spp atau Ganua, spp, kayu malau/Diospiros, spp (daun, buah, pucuk dan bunga), pohon rasau, jenis Pandanus, spp (umbut dan pucuk) sudah semakin sedikit yang tersisa di hutan rawa sekitar sungai. Lebih lanjut Doy, akrab disapa mengatakan; melihat situasi ini, sudah barang tentu dalam kurun waktu 14 tahun lagi bukan tidak mungkin bekantan atau dalam bahasa latinnya Nasalis larvatus akan punah.
Bekantan merupakan satwa endemik, populasi dan habitatnya tersebar di beberapa tempat, di beberapa tempat seperti di Kalimantan/ Pulau Borneo, Indonesia dan di beberapa tempat lain luar negeri seperti di Brunai dan Malaysia.
13732726281944257597
Bekantan hidup berkelompok di tepian sungai, foto dok. Abdurahman Al Qadrie/ BSYOK/ KBK
Di Kalimantan sebaran bekantan atau dalam bahasa Inggris di sebut Proboscis Monkey, sebaran di Kalimantan Barat, seperti di tepian sungai, seperti di Taman Nasional Danau Sentarum. Di Ketapang sebaran bekantan terdapat di wilayah hutan rawa gambut Pematang Gadung, Sungai Putri, Sungai Pawan dan di tepian sungai Perawas, Matan, Batu Barat di sekitar tepian sungai Taman Nasional Nasional Gunung Palung.
Bekantan memiliki terdiri dari dua subspecies yakni Nasalis larvatus larvatus, tersebar di Seluruh bagian pulau Kalimantan dan Nasalis larvatus orentalisi terdapat di bagian timur laut dari pulau Kalimantan.
Ciri-ciri bekantan dan habitat hidup. Bekantan memiliki hidung mancung dan besar pada jantan, dengan demikian bekantan disebut monyet belanda. Ukuran bekantan jantan kurang lebih 75 cm, dengan berat badan dapat mencapai 24 kg. Sedangkan Ukuran bekantan betina kurang lebih 60 cm, dengan berat badan dapat mencapai 12 kg. Bekantan betina memerlukan waktu 5-6 bulan masa kehamilan dan hanya melahirkan satu ekor anak dalam sekali masa kehamilan. Setelah melahirkan, anak bekantan akan tinggal bersama induknya hingga menginjak dewasa (berumur sekitar 4-5 tahun). Di Habitatnya, bekantan hidup berkelompok dan masing-masing kelompok dipimpin oleh seekor bekantan jantan. Biasanya dalam setiap kelompoknya berjumlah 10-25 ekor, mereka tinggal di tepian sungai.
1373272841815477046
Mamalia jenis ini dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar tahun 1931 dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999. Dok. Abdurahman Al Qadrie
Sejak tahun 2000, badan konservasi memasukan bekantan sebagai satwa dilindungi dan memasukan dalam status Endangered (terancam punah), Bekantan juga masuk dalam daftar CITES sebagai Apendix I (tidak boleh di perjualbelikan/diperdagangkan baik nasional maupun international). Menurut data tahun 2008, diperkirakan tinggal tersisa sekitar 25000 ekor atau dapat dikatakan jumlahnya semakin menurun drastis dari tahun ke tahun sejak tahun 1987 yang jumlahnya mencapai 260.000 ekor. Mudah-mudahan populasi dan habitat bekantan masih bisa bertahan, dengan kepedulian dan kesadaran semua secara bersama pula. Semoga saja…
By : Petrus Kanisius “Pit”- Yayasan Palung
2013-06-18
no image

Pengelolaan Madu Hutan Berbasis Periau


Ilustrasi Lebah Madu di Taman Nasional Danau Sentarum Loren

Kapuas Hulu,Produksi Madu Hutan di Kabupaten Kapuas Hulu sudah sejak lama menjadi salah satu sumber mata pencaharian dan menjadi penyangga perekonomian bagi kehidupan masyarakat terutama masyarakat yang berada di didalam dan sekitar danau.

“Produksi madu hutan ini didukung oleh kondisi dan lingkungan yang baik sebagai penyedia pakan lebah, mengandung nektar dan polen dari sari bunga, serta periode berbunga dari berbagai jenis pohon dan tumbuhan riparian yang ada,”kata Eko Salah Satu Peserta Workshop Pengelolaan Madu Hutan Berbasis Periau Sebagai Upaya Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat  di Kabupaten Kapuas Hulu(14/6).

Eko menjelaskan, Jenis lebah yang berkembang di wilayah perairan Kapuas Hulu merupakan lebah hutan jenis Apis dorsata, dengan sistem bersarang alami yang dikenal dengan nama “TIKUNG” yang merupakan modifikasi sebuah bentuk sarang buatan sebagai rekayasa sederhana masyarakat sebagai tempat lebah bersarang dan dikenal dengan nama “LALAU” dan “REPAK” untuk lebah yang bersarang di pohon.

Perkembangan pendampingan/pemberdayaan masyarakat untuk pengelolaan madu hutan telah dilakukan oleh lembaga non pemerintah LSM/NGO baik melalui proyek-proyek atau riset dari luar negeri maupun lembaga lokal yang bekerjasama dengan masyarakat lokal terutama untuk daerah Taman Nasional Danau Sentarum dan danau-danau lindung atau yang dilindungi masyarakat yang memiliki arti tersendiri terkait pengelolaan madu hutan yang mulai dari pembinaan poroduksi hingga, teknologi panen hingga pasca panen.

“Informasi terkini banyak kenyataan bahwa madu hutan ini ternyata tidak saja di produksi dari kawasan Danau Sentarum, tetapi tepian sepanjang sungai Kapuas. Berdasarkan data yang terkumpul diperkirakan panen madu hutan untuk periode Nopember 2012 sampai April 2013 lebih kurang mencapai 80 Ton (data dikumpul oleh Pokja Madu dari berbagai sumber), sementara Kawasan TNDS sendiri berkontribusi panen mencapai hampir 40 ton atau setara 50% dari jumlah total tersebut,”jelas Eko Koordinator FFI Kapuas Hulu.

Eko menerangkan,Produksi madu yang besar ini tentunya perlu dilakukan pengelolaan secara terencana agar memberikan manfaat peningkatan dan perbaikan perekonomian terutama bagi masyarakat setempat dan daerah sekitarnya.

Disela-sela workshop peserta Workshop bertemu Bupati Kabupaten Kapuas Hulu,” Bupati berkomitmen untuk merealisasikan persyaratan itu selain itu juga diinternal Pemkab, Bupati berkomitmen untuk mengalokasikan pembiayaan APBD pengelolaan Madu,” kata Eko.

Eko mejelaskan, akan ada sentra pengembangan madu yang akan disuport Kementrian Kehutanan, rancangan dari Pokja Madu akan mencoba membangun minimal enam sentra madu diwilayah Kapuas Hulu, dua diantaranya berada di TNDS yaitu APDS dan yg tidak masuk APDS, kemudian Wilayah Jongkong, kemudian Kecamatan Bunut memungkinkan untuk dua Sentra (juga berpeluang untuk digabung) yaitu di Jalur Kapuas dan jalur Sungai Bunut,  terakhir berpusat di Nanga Embaloh yang mengcover wilayah Kec. Embaloh Hilir, Embaloh Hulu, Bika dan sekitarnya.

“Selain itu,akan didorong adanya penetapan comudity madu sebagai comudity unggulan dengan SK Bupati, sebagai prasarat dukungan kementrian,”terang Eko.


Diposting : Admin
Copyright © LPSAIR 2012
2013-06-13
no image

Mengolah Produk Tikar Pandan Menjadi Barang Aksesoris Cantik

1371096245433118539
Salah satu hasil kreasi barang cantik dari anyaman tikar. doc. Yayasan Palung



Kayong UtaraKerajinan hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan sebuah bentuk dari keterampilan masyarakat dengan memanfaatkan hasil hutan dan mengolahnya tanpa merusak hutan. Tanaman hutan tersebut berupa pandan, nipah, keladi air dan bambu yang selanjutnya diolah menjadi beraneka macam anyaman tikar, Lekar, topi, kursi dan meja. Kerajinan HHBK tersebut digeluti perempuan dan ada juga laki-laki. Ternyata mereka mengolahnya barang tersebut menjadi barang-barang cantik. Para pengrajin tersebut berasal dari Tanah Kayong, lebih tepatnya di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.
13710966381010243441
Wadah Tisue dari dari produk anyaman pandan, foto doc. YP
13710968221796813446
Berbagai Barang krasi anyaman seperti : gantungan kunci,alas buku dll. doc. YP
Sebagai salah bentuk satu perhatian Yayasan Palung kepada masyarakat khususnya bagi para pengrajin, bulan lalu (23-26/5/2013), diadakan pelatihan pengembangan produk tikar pandan untuk dijadikan barang-barang asesoris cantik dengan berbagai kreasi hasil produk yang dihasilkan. Pelatihan yang dilaksanakan selama 4 hari tersebut diperuntukan bagi 4 desa dampingan Yayasan Palung yang memiliki kelompok pengrajin tikar pandan atau kelompok pengrajin hasil hutan bukan kayu (HHBK). Kegiatan pelatihan tersebut dilaksanakan di Kantor Yayasan Palung, Bentangor Pampang Center, di Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara.
Kegiatan pelatihan pengembangan produk tikar pandan menjadi barang asesoris cantik dan bermanfaat ini diikuti oleh semua pengrajin tikar pandan, kelompok dampingan Yayasan Palung di KKU. Pelatihan pengembangan Produk tikar pandan ini diikuti oleh 20 peserta dari masing-masing kelompok pengrajin.
13710972261267753270
Saat Pelatihan pengolahan produk berlansung. foto doc. YP
13710970271527915575
Anyaman dari Pandan seperti alas Meja dengan motif dan anyaman lekar (alas kuali & periuk) dari rotan (produk HHBK), Foto, doc. Wendi-Yayasan Palung
Sedangkan desa dampingan kelompok pengrajin tikar pandan seperti; desa Desa Sejahtera, Sukadana dengan nama kelompok pengrajin, Karya Sejahtera. Desa Pangkalan Buton, Sukadana, dengan nama kelompok pengrajin Peramas Indah. Desa Harapan Mulia, Sukadana, dengan nama Anugerah. Desa Batu Barat, Simpang Hilir, dengan nama Harapan Desa.
Peserta pelatihan mengkreasikan anyaman menjadi produk anyaman seperti, wadah tissue, keranjang buah, alas buku, dompet dan berbagai aksesoris lainnya seperti souvenir (gantungan kunci). Dalam mengkreasikan barang-barang anyaman tikar pandan untuk di kembangkan menjadi bermanfaat. Para pengrajin terlebih dahulu menganyam pandan tersebut, setelah dianyam dikreasikan lagi dengan menggunakan alat-alat pendukung untuk dijadikan barang-barang aksesoris.
Adapun alat-alat pendukung yang digunakan seperti; lem, gunting, karton, kain, busa, aksesoris lokal seperti kancing dari kelapa, pita, jarum dan benang atau dengan kata lain alat-alat menggunanakan peralatan dan perlengkapan yang tersedia secara lokal di Ketapang dan KKU untuk membuat dan memproduksi dengan pengembangan produk tikar pandan.
Sebagai pelatih dalam kegiatan pengembangan produk tikar pandan bapak Darwani dan ibu Ida, mereka berdua ahli dalam menganyam sehingga mampu menularkankan pada anggota kelompoknya. Selain itu juga, Ibu Ida sekaligus sebagai ketua pengrajin HHBK di Kayong Utara.
Menurut F. Wendi Tamariska, selaku pendamping kelompok pengrajin HHBK dari Yayasan Palung, mengatakan; Segmentasi pasar atau sasaran pasar dari pengembangan produk tikar pandan ini adalah industri perhotelan, acara resmi seperti seminar nasional atau pertemuan daerah, dan acara-acara lokal seperti pernikahan, dan lain sebagainya. Lebih lanjut Wendi berharap, mudah-mudahan semua pihak memiliki perhatian dengan berbagai potensi HHBK ini, dengan demikian masyarakat dapat berdaya dan berkelanjutan dengan apa yang mereka ciptakan. Semoga saja…
By : Petrus Kanisius “Pit”- Yayasan Palung.
no image

Penting Sosialisasikan Alur Pelayanan RSUD

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Anggota DPRD Ketapang Al Muhammad Yani menuturkan sosialisasi harus lebih dimaksimalkan baik oleh RSUD dr Agusdjam maupun penyedia pelayanan asuransi. 

Sosialisasi itu baik menyangkut alur hak dan kewajiban terhadap pelayanan asuransi hingga alur birokrasi yang mesti ditempuh pasien. "Di sinilah letak pentingnya aspek sosialisasi, karena tanpa sosialisasi yang baik maka sulit mencapai kata saling paham. Meskipun pada dasarnya dilihat dari RSUD telah menyediakan papan-papan informasi namun ini terkadang tak cukup bagi masyarakat," katanya, Rabu (12/6/2013).

Kata Yani mengapa dirasa tak cukup, karena tataran pengguna jasa rumah sakit yang berasal dari semua golongan. "Bukan bermaksud membeda-bedakan masyarakat menjadi golongan ini golongan itu, tetapi penting untuk dilihat kadar pendidikan juga mempengaruhi untuk mendapatkan pemahaman informasi yang cukup," tambah Yani.


Penulis : novi saputra
Editor : Arief
no image

Dua Kapal Tenggelam di Perairan Ketapang

Basarnas-Ketapang.jpg
ISTIMEWA
Anggota Basarnas Ketapang saat berupaya mendekati tongkang yang kehilangan tugboatnya karena tenggelam di perairan Pesaguan, Ketapang, Rabu (12/6/2013).


TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kecelakaan laut terjadi di dua lokasi berbeda di perairan Ketapang, Rabu (12/6/2013). Beruntung tak ada satupun korban jiwa akibat kecelakaan itu.

Kejadian pertama dari sebuah kapal motor yang tenggelam di perairan pulau Sawi dan kejadian berikutnya sebuah tugboat yang tengah menarik tongkang, juga kandas dihajar gelombang di perairan Pesaguan.

Koordinator Basarnas Ketapang, Leonardus Sabar Umbara menuturkan tugboat Daya Usaha yang tengah menarik tongkang menara 1 kandas dihajar gelombang besar, akibatnya tugboat tenggelam dan kapten kapal yakni Yunding beserta tiga orang anak buah kapal (ABK) nyaris teretelan ombak.

"Beruntung tali tugboat masih sangkut ke tongkang, jadi sewaktu tim evakuasi tiba mereka dalam keadaan selamat di tongkangnya. Kejadian ini diperkirakan terjadi pukul 10 pagi dan anggota evakuasi berhasil sampai dilokasi sekitar pukul 3 sore, " kata Leo, sapaannya, Rabu.

Sementara kejadian lainnya, sebuah kapal motor air tenggelam di laut sekitar pulau Sawi Ketapang, kecelakaan laut ini diakibatkan oleh ombak besar yang menghantam bilik  kapal motor nahas tersebut pada pukul 06.00 WIB.

Kasatpolair Polres Ketapang, Iptu Said Aslam mengatakan, kapal motor nahas tersebut bernama lambung "Titipan Ilahi" dengan juragan motor air bernama Iyan (23) dan dua ABK yakni Yus (24) dan Munata  (26).

"Kapal motor ini membawa muatan kelontong sama 26 drum bensin sama solar, gas ukuran 3kg 100 butir, tujuannyamenuju air hitam, sekarang posisi mereka sudah di Kendawangan,"pungkasnya

Penulis : novi saputra
Editor : Arief

2013-06-12
no image

Pontianak Segera Bangun SMA Multilingual

Pontianak Segera Bangun SMA Multilingual ilustrasi pelajar (foto: Antara)
KBR68H, Pontianak - Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak berencana membangun SMA unggulan yang menggunakan bahasa pengantar Bahasa Inggris, Prancis, Jepang dan Arab.Rencananya, lokasi pembangunan SMA unggulan multiligual itu tepat bersebelahan dengan SMK Pelayaran di Jalan Kom Yos Soedarso, Kecamatan Pontianak Barat.

Walikota Pontianak Sutarmidji mengatakan rencana pembangunan SMA unggulan ini sebagai upaya menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang bisa memahami dan memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya.

“Karena Pontianak tidak memiliki sumber daya alam, jadi SDM-nya harus lebih baik dan unggul dari yang lainnya. Dan bahasa merupakan salah satu upaya kita menciptakan SDM masyarakat Kota Pontianak unggul,” ungkapnya.

Tak tanggung-tanggung, keseriusan Pemkot dalam menciptakan SDM yang memiliki kemampuan berbahasa asing sangat besar. Selain rencana pembangunan SMA unggulan berbahasa pengantar bahasa asing, Pemkot juga akan membangun pusat bahasa di Gedung Pontianak Convention Centre (PCC) tepatnya di lantai atas dengan luas sekitar lebih dari 2.000 meter persegi.

“Di sana akan kita gunakan sebagai tempat atau pusat pembelajaran bahasa bagi masyarakat Kota Pontianak. Akan ada bahasa Inggris termasuk TOEFL-nya, Bahasa Jepang, Bahasa Arab dan juga tidak kalah pentingnya Bahasa Prancis,” papar Midji.

Saat ini, berbagai negara maju berupaya menjadikan bahasanya sebagai bahasa komunikasi dunia. Dilatarbelakangi berbagai negara besar yang mempunyai pengaruh di dunia berlomba-lomba menjadikan bahasa mereka sebagai bahasa pengantar dalam hubungan antar satu negara dengan negara lainnya, maka setiap bangsa dituntut bisa memahami banyak bahasa. 

Sumber: radio Volare  
Editor: Antonius Eko
no image

Raih Adiwiyata Mandiri Berkat Kerja Keras

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Kepala Sekolah SMPN 3 Ketapang, Effendi menuturkan keberhasilan sekolahnya meraih predikat Sekolah Adiwiyata Mandiri tingkat nasional 2013 merupakan hasil kerja keras dan kerjasama seluruh warga sekolah. 

Effendi mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak-pihak yang telah mendukung program sekolah. "Ini adalah berkat kerja keras dan kerjasama seluruh elemen warga sekolah yang telah berupaya maksimal,"kata Effendi, Selasa (11/6/2013).

Sementara Sekretaris Dinas Pendidikan Ketapang, Jahilin juga meminta kepada SMPN 3 untuk terus meningkatkan kualitasnya, lantaran dalam upaya mempertahankan terkadang jauh lebih berat dibanding mendapatkan gelar.

"Jangan sampai terlena, harus terus termotivasi untuk meningkatkan kualitas terutama kualitas anak didik dan anugrah tingkat nasional yang didapat," katanya.

Sebelumnya diberitakan, SMPN 3 Ketapang menerima anugerah Sekolah Adiwiyata Mandiri yang diberikan langsung oleh Presiden RI, Susilo bambang Yudhoyono, Senin (10/6/2013).

Penulis : novi saputra
Editor : Arief
Back To Top