Breaking News
Loading...

Media News

Tech News

Random Post

Recent Post

Showing posts with label Jurnalistik. Show all posts
Showing posts with label Jurnalistik. Show all posts
2013-07-10
no image

Pelatihan CO Bagi Kelompok Pengrajin Tradisional di Kayong Utara

Sabtu-minggu pekan lalu (6-7 juli 2013), Yayasan Palung mengadakan pelatihan Community Organizer (perorganizeran masyarakat-red) bagi kelompok pengrajin tradisional, hasil hutan bukan kayu di Kabupaten Kayong Utara.
1373346282402328585
Pelatihan CO bagi pengrajin tradisional hhbk. foto 1, dok.YP
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut dihadiri oleh para pengrajin tradisional yang tergabung dalam kelompok-kelompok pengrajin hasil hutan bukan kayu (HHBK), kelompok pengrajin ini merupakan kelompok dampingan dan binaan Yayasan Palung.
Peserta dalam pelatihan ini dihadiri oleh perwakilan dari masing-masing kelompok sebanyak 5 orang peserta yang berasal dari Desa Sejahtera, Desa Pangkalan Buton, Desa Harapan Mulia di Kecamatan Sukadana dan dari Desa Batu Barat, Kecamatan Simpang Hilir, KKU. Pelatihan CO bagi kelompok pengrajin HHBK, juga dalam pelaksanaan mendapat sambutan baik dari perangkat desa di empat desa dampingan Yayasan Palung, hal ini terlihat dari antusias dengan kehadiran Kepala Dusun dan perangkat Pemerintah Desa hadir dalam acara tersebut, dengan demikian jumlah peserta yang hadir berjumlah 20 orang peserta.
1373346555990026081
Pelatihan CO bagi pengrajin, saat penyampaian materi peningkatan kapasitas bagi para pengrajin hhbk. dok, YPPelatihan CO bagi pengrajin, saat permainan/ game, agar peserta tidak jenuh. foto 2. dok. YP
1373346905425962365
Peserta Pelatihan CO, foto 3, dok. YP
Menurut F. Wendi Tamariska, sebagai livelihood coordinator program Yayasan Palung, sekaligus sebagai pendamping bagi para pengrajin tradisional hhbk, pelatihan Community Organizer (perorganizeran masyarakat) ini diselenggarakan dengan tujuan diharapkan anggota-anggota kelompok pengrajin hhbk bisa memahami dan menjalankan tugas serta prinsip-prinsip organiser. Selain itu, peserta dalam pelatihan ini mampu untuk membangun dan menjalankan tujuan kelompok dengan metode organiser.
1373346977206565682
Pelatihan CO bagi pengrajin, peningkatan kapasitas pengrajin. foto 4, dok. YP
Dalam pelaksanaan pelatihan CO tersebut, sebagai trainer adalah F. Wendi Tamariska. Adapun tempat pelaksanaan pelatihan bertempat di kantor Bentangor, Yayasan Palung, di Desa Pampang Harapan.
Pelaksanaan pelatihan CO bagi pengrajin berjalan sesuai dengan harapan dan berjalan sesuai dengan rencana juga mendapat sambutan baik dari peserta pelatihan.
By : Petrus Kanisius “Pit”- Yayasan Palung
no image

Bekantan 14 Tahun Lagi Akan Punah

13732723491889453487
Bekantan Jantan di hutan rawa gambut Pematang Gadung, foto dok. Abdurahman Al Qadrie/ BSYOK/KBK



Bekantan atau orang biasa menyebutnya si hidung mancung merupakan salah satu satwa yang sebaran habitanya terdapat di hutan rawa gambut, tepatnya mereka mendiami tepi-tepi sungai. Dari tahun ke tahun populasi bekantan jumlah populasi dan habitatnya semakin menurun bahkan diperkirakan dalam kurun waktu 14 tahun lagi bekantan akan punah akibat habitat mereka yang semakin terancam.
Pohon-pohon di tepi sungai menjadi tempat favorit bekantan saat pagi dan sore tiba. Bekantan memilih waktu di pagi hari untuk mencari makan dan di sore hari mereka berkelompok berkumpul dan bercengkrama di tepian sungai untuk mencari tempat tidur menjelang malam. Saban hari (setiap hari-red) mereka rutin melakukan aktivitas ini.
1373272912822608798
Bekantan Jantan, Foto dok. Abdurahman Al Qadrie/ BSYOK/KBK
Habitat Terancam menjadi salah satu kekhawatiran bekantan sulit untuk bertahan hidup. Saat ini, populasi dan habitat (tempat hidup-red) bekantan semakin terancam. Berbagai aktivitas manusia salah satunya. Laju kerusakan hutan yang semakin sulit di cegah di wilayah hutan sekitar sungai hutan rawa gambut untuk perkebunan, pertanian dan pembangunan menjadi faktor pendorong bekantan sulit bertahan. Pohon-pohon di tepian sungai yang menjadi tempat nyaman hidup mereka hidup kian terkikis oleh ulah manusia yang mengambil atau memanfaatkan kayunya sebagai kebutuhan hidup untuk bahan bangunan dan kayu bakar.
Tidak hanya itu, menurut Abdurahman Al Qadrie, ketua pengamat burung dan bekantan dari Kelompok B’syok, mengatakan; secara kasat mata habitat hidup bekantan yang hidup di hutan rawa gambut semakin hari semakin terancam. Salah satu bukti nyata keterancaman habitat dan populasi bekantan dapat terlihat dari sumber ketersediaan pakan atau makanan mereka berupa daun, buah, pucuk dan bunga dari pohon nyatoh/ ketiau atau dalam bahasa latinnya Palaquium, spp atau Ganua, spp, kayu malau/Diospiros, spp (daun, buah, pucuk dan bunga), pohon rasau, jenis Pandanus, spp (umbut dan pucuk) sudah semakin sedikit yang tersisa di hutan rawa sekitar sungai. Lebih lanjut Doy, akrab disapa mengatakan; melihat situasi ini, sudah barang tentu dalam kurun waktu 14 tahun lagi bukan tidak mungkin bekantan atau dalam bahasa latinnya Nasalis larvatus akan punah.
Bekantan merupakan satwa endemik, populasi dan habitatnya tersebar di beberapa tempat, di beberapa tempat seperti di Kalimantan/ Pulau Borneo, Indonesia dan di beberapa tempat lain luar negeri seperti di Brunai dan Malaysia.
13732726281944257597
Bekantan hidup berkelompok di tepian sungai, foto dok. Abdurahman Al Qadrie/ BSYOK/ KBK
Di Kalimantan sebaran bekantan atau dalam bahasa Inggris di sebut Proboscis Monkey, sebaran di Kalimantan Barat, seperti di tepian sungai, seperti di Taman Nasional Danau Sentarum. Di Ketapang sebaran bekantan terdapat di wilayah hutan rawa gambut Pematang Gadung, Sungai Putri, Sungai Pawan dan di tepian sungai Perawas, Matan, Batu Barat di sekitar tepian sungai Taman Nasional Nasional Gunung Palung.
Bekantan memiliki terdiri dari dua subspecies yakni Nasalis larvatus larvatus, tersebar di Seluruh bagian pulau Kalimantan dan Nasalis larvatus orentalisi terdapat di bagian timur laut dari pulau Kalimantan.
Ciri-ciri bekantan dan habitat hidup. Bekantan memiliki hidung mancung dan besar pada jantan, dengan demikian bekantan disebut monyet belanda. Ukuran bekantan jantan kurang lebih 75 cm, dengan berat badan dapat mencapai 24 kg. Sedangkan Ukuran bekantan betina kurang lebih 60 cm, dengan berat badan dapat mencapai 12 kg. Bekantan betina memerlukan waktu 5-6 bulan masa kehamilan dan hanya melahirkan satu ekor anak dalam sekali masa kehamilan. Setelah melahirkan, anak bekantan akan tinggal bersama induknya hingga menginjak dewasa (berumur sekitar 4-5 tahun). Di Habitatnya, bekantan hidup berkelompok dan masing-masing kelompok dipimpin oleh seekor bekantan jantan. Biasanya dalam setiap kelompoknya berjumlah 10-25 ekor, mereka tinggal di tepian sungai.
1373272841815477046
Mamalia jenis ini dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar tahun 1931 dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999. Dok. Abdurahman Al Qadrie
Sejak tahun 2000, badan konservasi memasukan bekantan sebagai satwa dilindungi dan memasukan dalam status Endangered (terancam punah), Bekantan juga masuk dalam daftar CITES sebagai Apendix I (tidak boleh di perjualbelikan/diperdagangkan baik nasional maupun international). Menurut data tahun 2008, diperkirakan tinggal tersisa sekitar 25000 ekor atau dapat dikatakan jumlahnya semakin menurun drastis dari tahun ke tahun sejak tahun 1987 yang jumlahnya mencapai 260.000 ekor. Mudah-mudahan populasi dan habitat bekantan masih bisa bertahan, dengan kepedulian dan kesadaran semua secara bersama pula. Semoga saja…
By : Petrus Kanisius “Pit”- Yayasan Palung
2013-06-13
no image

Mengolah Produk Tikar Pandan Menjadi Barang Aksesoris Cantik

1371096245433118539
Salah satu hasil kreasi barang cantik dari anyaman tikar. doc. Yayasan Palung



Kayong UtaraKerajinan hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan sebuah bentuk dari keterampilan masyarakat dengan memanfaatkan hasil hutan dan mengolahnya tanpa merusak hutan. Tanaman hutan tersebut berupa pandan, nipah, keladi air dan bambu yang selanjutnya diolah menjadi beraneka macam anyaman tikar, Lekar, topi, kursi dan meja. Kerajinan HHBK tersebut digeluti perempuan dan ada juga laki-laki. Ternyata mereka mengolahnya barang tersebut menjadi barang-barang cantik. Para pengrajin tersebut berasal dari Tanah Kayong, lebih tepatnya di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.
13710966381010243441
Wadah Tisue dari dari produk anyaman pandan, foto doc. YP
13710968221796813446
Berbagai Barang krasi anyaman seperti : gantungan kunci,alas buku dll. doc. YP
Sebagai salah bentuk satu perhatian Yayasan Palung kepada masyarakat khususnya bagi para pengrajin, bulan lalu (23-26/5/2013), diadakan pelatihan pengembangan produk tikar pandan untuk dijadikan barang-barang asesoris cantik dengan berbagai kreasi hasil produk yang dihasilkan. Pelatihan yang dilaksanakan selama 4 hari tersebut diperuntukan bagi 4 desa dampingan Yayasan Palung yang memiliki kelompok pengrajin tikar pandan atau kelompok pengrajin hasil hutan bukan kayu (HHBK). Kegiatan pelatihan tersebut dilaksanakan di Kantor Yayasan Palung, Bentangor Pampang Center, di Desa Pampang Harapan, Kabupaten Kayong Utara.
Kegiatan pelatihan pengembangan produk tikar pandan menjadi barang asesoris cantik dan bermanfaat ini diikuti oleh semua pengrajin tikar pandan, kelompok dampingan Yayasan Palung di KKU. Pelatihan pengembangan Produk tikar pandan ini diikuti oleh 20 peserta dari masing-masing kelompok pengrajin.
13710972261267753270
Saat Pelatihan pengolahan produk berlansung. foto doc. YP
13710970271527915575
Anyaman dari Pandan seperti alas Meja dengan motif dan anyaman lekar (alas kuali & periuk) dari rotan (produk HHBK), Foto, doc. Wendi-Yayasan Palung
Sedangkan desa dampingan kelompok pengrajin tikar pandan seperti; desa Desa Sejahtera, Sukadana dengan nama kelompok pengrajin, Karya Sejahtera. Desa Pangkalan Buton, Sukadana, dengan nama kelompok pengrajin Peramas Indah. Desa Harapan Mulia, Sukadana, dengan nama Anugerah. Desa Batu Barat, Simpang Hilir, dengan nama Harapan Desa.
Peserta pelatihan mengkreasikan anyaman menjadi produk anyaman seperti, wadah tissue, keranjang buah, alas buku, dompet dan berbagai aksesoris lainnya seperti souvenir (gantungan kunci). Dalam mengkreasikan barang-barang anyaman tikar pandan untuk di kembangkan menjadi bermanfaat. Para pengrajin terlebih dahulu menganyam pandan tersebut, setelah dianyam dikreasikan lagi dengan menggunakan alat-alat pendukung untuk dijadikan barang-barang aksesoris.
Adapun alat-alat pendukung yang digunakan seperti; lem, gunting, karton, kain, busa, aksesoris lokal seperti kancing dari kelapa, pita, jarum dan benang atau dengan kata lain alat-alat menggunanakan peralatan dan perlengkapan yang tersedia secara lokal di Ketapang dan KKU untuk membuat dan memproduksi dengan pengembangan produk tikar pandan.
Sebagai pelatih dalam kegiatan pengembangan produk tikar pandan bapak Darwani dan ibu Ida, mereka berdua ahli dalam menganyam sehingga mampu menularkankan pada anggota kelompoknya. Selain itu juga, Ibu Ida sekaligus sebagai ketua pengrajin HHBK di Kayong Utara.
Menurut F. Wendi Tamariska, selaku pendamping kelompok pengrajin HHBK dari Yayasan Palung, mengatakan; Segmentasi pasar atau sasaran pasar dari pengembangan produk tikar pandan ini adalah industri perhotelan, acara resmi seperti seminar nasional atau pertemuan daerah, dan acara-acara lokal seperti pernikahan, dan lain sebagainya. Lebih lanjut Wendi berharap, mudah-mudahan semua pihak memiliki perhatian dengan berbagai potensi HHBK ini, dengan demikian masyarakat dapat berdaya dan berkelanjutan dengan apa yang mereka ciptakan. Semoga saja…
By : Petrus Kanisius “Pit”- Yayasan Palung.
2013-05-30
no image

Berkeliling Kota Memotret Realita Tumpukan Sampah Menghiasi Ketapang

1369803557733604586
Sampah di pinggir jalan tentemak, Ketapang, Kalbar. Foto doc. RK. Tajam, Yayasan Palung




Beberapa waktu lalu (17/5/13), Relawan Konservasi Taruna Penjaga Alam (RK. Tajam- red) Yayasan Palung, sengaja berkeliling di seputaran jalan di kota Ketapang untuk melihat realita permasalahan lingkungan, dengan mendokumentasikannya. Salah satunya potret sampah (tumpukan sampah-red) yang masih saja menumpuk.
Para relawan Tajam, satu hari sebelumnya bertemu untuk berkumpul dan rapat bersama. mereka(relawan-red), mengumpulkan unek-unek mereka salah satunya terkait berbagai persoalan lingkungan saat ini, salah satunya fenomena sampah. Dengan kesepakatan mereka, kemauan dan kesadaran mereka untuk terjun langsung melihat realita sampah yang cukup banyak tersebar.
Menurut Muhadi, salah satu relawan Tajam mengatakan tumpakan-tumpukan sampah masih tersebar, salah satunya sampah plastik, sampah sisa-sisa makanan, sampah elektonik, botol dan tumpukan sampah kardus terlihat di seputaran Rangga Sentap. Menurutnya, sampah-sampah tersebut bertumpuk-tumpuk menghiasi di sisi jalan dan cukup mengganggu pemandangan.
Sedangkan di Ruas Jl. Hayam Wuruk, tepatnya di Sukabangun Dalam, sampah mtampak menumpuk di sekitar sungai. Sampah-sampah tersebut tampak di pinggir jalan berdekatan dengan aliran sungai kata Yadi, Ketua relawan Tajam. Ruas jl. S. Parman, tepatnya di depan Dinas Pendidikan, tumpukan sampah terlihat meluber di tempat sampah yang tersedia.
13698037141191667780
Sampah di Pinggir jalan dekat dengan saluran air, Sukabangun. Foto Doc. RK Tajam, Yayasan Palung
13698038142042715194
Sampah di jalan Lingkar Kota. foto doc. RK. Tajam, Yayasan Palung
1369803900711092255
Sampah di pinggir jalan Sentap. Foto doc. RK. Tajam, Yayasan Palung
Potret lainnya, tumpukan sampah tersebar di pinggir jalan Kalinilam dan di jl. Lingkar Kota, mulia Baru, tumpukan sampah juga tersebar di pinggir jalan menuju kearah sebelum hutan kota, tumpukan sampah juga terlihat di Kampung Bunga, tepatnya di pinggiran Lapangan Sepakat tampak terlihat sampah meluber di tempat tumpukan sampah akibat salah satunya kotak sampah tidak bisa menampung lagi.
13698043201528715143
Sampah dibuang di pinggir jalan, di jalan Lingkar Kota Ketapang, Kalbar. Foto doc. RK. Tajam, Yayasan Palung
Keberadaan sampah di Ketapang menjadi salah satu pemandangan yang cukup menyita perhatian karena fenomena sampah di Ketapang sudah dampak pada banjir sesaat pada waktu hujan tiba, sebagai contoh, jln D.I. Panjaitan.
Persoalan sampah yang tidak kunjung henti selesai saat ini, secara kasat mata lebih disebabkan oleh masih minimnya pemahaman kesadaran warga pada saat membuang sampah dengan sesuka hati. Masalah sampah dan dampak sampah seolah tidak begitu menjadi hal penting. Selain itu, sudah pasti, tumpukan-tumpukan sampah yang mengihiasi di pinggir-pinggir jalan ini sedikit banyak mengganggu, terlebih sampah basah (sampah rumah tangga dari sisa-sisa makanan-red) menimbulkan bau menyengat. Ketersediaan tempat sampah (kotak Sampah, tong sampah-red) belum cukup banyak menampung jumlah sampah.
1369804028144275197
Sampah di jalan Lingkar Kota, sampah plastik, sampah kardus, kertas dan sampah sisa-sisa makanan. Foto doc. RK. Tajam, Yayasan Palung
13698041911413873543
Sampah di jalan lingkar kota, sebelum hutan kota dari makam pahlawan. Foto doc. RK. Tajam, Yayasan Palung
Dari hasil penelusuran dan pendokumentasian para Relawan Tajam, sampah yang paling banyak dijumpai adalah sampah plastik, sampah dari sisa-sisa makanan. Para Relawan Tajam, Yayasan Palung, Prihatin dengan tumpukan-tumpukan sampah, mereka berharap dan mengamini jika persoalan sampah ini menjadi penting untuk diperhatikan oleh semua pihak mengingat sampah di Kota Ketapang semakin bertambah mengingat semakin bertambahnya jumlah masyarakat dan kebutuhan masyarakat. Semoga saja…
By : Petrus Kanisius “Pit”
2013-05-20
no image

Catatan: Untuk Jujur Itu Sulit di Negeri Ini

Segala sesuatu yang kita lakukan didalam hidup ini tanpa sadar ataupun disadari tidak jarang untuk jujur itu sulit. Terkadang kita berucap, berujar, bersikap dalam perbuatan kita dan biertindak seringkali tidak sesuai dengan harapan orang lain atau banyak orang ataupun seseorang. Kenapa untuk jujur itu sulit?.
Realita hidup yang semakin kompleks dengan berbagai tantangan dan cobaan hidup, kondisi, sikap hidup, perjalanan hidup, perjuangan hidup, tantangan hidup,cobaan hidup, perbedaan hidup dan arti hidup dalam menjalani hidup ini sebagai rangkaian penuh dengan beban berat dan beban ringan. Entah benar atau tidak, pernyataan jujur atau kejujuran dalam diri tidak jarang (sering) dibedakan karena sikap dan perilaku, terkadang ada juga disebabkan atau dipengaruhi oleh segala perbedaan-perbedaan karena tidak sama baik bentuk tubuh/kondisi fisik/kaum difabel (keadaan cacat fisik dlsb), perbedaan strata, perbedaan status ekonomi. Kecenderungan ini terus terjadi dan berlaku bagi kaum akar rumput. Dianaktirikan, tidak dianggap, diacuhkan, diremehkan, diacuhkan, dihindari atau acapkali menghindar karena rupa tidak sama/berbeda (cacat), tidak dianggap dengan seribu bahkan berjuta alasan. Sudah barang tentu, sikap malu dan gengsi merajai hidup ini.
Ada yang mengatakan hidup bukan untuk di tangisi tetapi untuk disyukuri. Memang secara teorinya ya, tetapi secara prakteknya tidak. Tidak jarang kita merasa selalu sempurna, merasa lebih, merasa lebih sempurna dan ada yang mengagung-agungkan kelimpahannya berbanding lurus dengan pembedaan dengan kaum terpinggirkan yang terus bertambah. Hidup atau kehidupan kaum difabel sering menjadi cibiran/olok-olokan, tidak dianggap dan sudah pasti ada banyak kemampuan mereka diragukan bahkan dinomor duakan dan dibiarkan sehingga ada anggapan kaum difabel banyak dianggap sebagai sampah di negeri ini.
Untuk jujur ternyata sudah semakin sulit ditemukan saat ini, untuk mengakui, mengucapkan/dilontarkan. Sebuah argumen tentang segala sesuatu baik itu kehidupan, politik, sosial, ekonomi, budaya dan cinta dan sebagainya terkadang hanya sebatas belaskasihan dan terkadang penuh dengan keterpura-puraan. Sebuah janji harapan atau sebuah keinginan terlontar tetapi hanya sebuah simbol, hanya sebuah ucapan belaka.
Kenyataan hidup dan kejujuran tentang sikap serta kondisi yang apa adanya (difabel/cacat) seringkali dianggap sebagai sebuah alasan cengeng, manja atau selalu mengeluh dan mengaduh, namun sesungguhnya itu benar-benar terjadi. Hidup dengan segala keterbatasan memang disatu sisi menyakitkan, sebuah cobaan, suatu halangan, sebuah tantangan sekaligus sebagai resiko dan nasib hidup yang harus diterima apa adanya ada dan harus disyukuri. Walau sulit dan teramat berat dengan sisa-sisa upaya dan harapan.
Ejekan dan pertanyaan-pertanyaan sering merong-rong, ada kalanya menerima, menyemangati dengan apa adanya namun sangat minim. Kondisi dengan keadaan terkadang kepercayaan diri runtuh atau luluh tidak berdaya dikala diterpa realita dikala kejujuran para mereka yang sempurna cenderung jujur katanya tetapi bersembunyi, berdiam diatas tahta penderitaan, bersuara lembut namun keras melibas mencipta luka derita dalam jiwa, berprilaku suci murni seperti terlihat namun penuh amarah, dendam, kebencian, kesombongan dan pembelaan pada sahabat-sahabat yang menutup rapat dan mengunci rahang serta suara.
Tertutup tetapi berkoar-koar, memilih terlampau memilih tidak kunjung usai dan belum juga selesai. Hidup merdeka tetapi tetapi meronta, bebas lepas terlampau terlepas. Lain dulu lain sekarang, berubah sudah (sudah berubah) sudah pasti, janji-janji dulu tinggal janji dan tinggal kenangan. Retrorika politik saling tuding, politik kekuasaan merajai dan merasuk ke segala denyut nadi kehidupan dan menjadi derita bagi penerima hokum sebab akibat yaitu rakyat. Hukum tidak lagi berjalan sesuai irama dan petunjuk serta amanat undang-undang, fakta dan realita obrak abrik, hukum sudah terluka dan terlena karena uang, sering gaduh mengaduh terlampau bersahut tangis busung lapar dan pembangunan tidak kunjung henti tetapi hanya terbatas dan tanpa memandang kualitas, hak-hak masyarakat hanya angin lalu, pendidikan tercemar tangan-tangan nakal dengan membocorkan dan menghalalkan segala cara. Ijin terus dikeluarkan hanya untuk menguras dan membumi hanguskan sisa-sisa jantung hutan Borneo/ Kalimantan, Sumatera, Papua, Sulawesi dan Jawa bahkan terjadi juga di pulau-pulau lainnya. Hasil bumi entah kemana, eksplorasi dan perluasan areal menjadi derita hutan- hutan tropis dan satwa juga terancam hilang dan punah akibat habitat tinggal sisa-sisa akibat tangan-tangan tidak kelihatan, rakyat menjerit, berkonflik tapi terus dibiarkan dan menyisakan tanda tanya dan tangis dan pilu terlampau terlanjur tercemar di semua aspek.
13625708821946248308
Pembukaan lahan gambut di wilayah lawang Darah, Ketapang Kalbar. Pembukaan Lahan Berdampak pada terganggunya ekosistem di sekitarnya. Foto doc. Yayasan Palung, 2012.
Para petinggi sibuk dengan wacana, retorika, janji dan segala petuah-petuah, masyarakat atas dan menengah berkelimpahan harta dan sibuk berbagi harta gono gini. Masyarakat akar rumput dikadali dengan segala tipu daya, tidak sedikit mereka yang melarat dan sekarat. Kesenjangan tampak terjadi, konflik semakin sering dipertontonkan, konspirasi, nyawa melayang terlanjur bertambah; persatuan terpecah belah menjadi dogma saling serang, saling tuding dan saling menyalahkan serta selalu menjadi tanya di negeri ini. Akankah ini terus seperti ini dan terus berlanjut?. Andai saja semua bisa jujur dan jujur itu bisa berkata-kata. 


By : Petrus Kanisius 

2013-04-21
no image

Berantas Korupsi Melalui Radio Komunitas

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) didukung Jaringan Radio Komunitas Kalbar dan Combine Resource Institution menggelar kegiatan Kick of Meeting Lauching Program Diskusi III di Hotel Merpati, Pontianak, Jumat (19/4/2013).

Kegiatan tersebut dihelat guna mendeklarasikan radio komunitas untuk Indonesia bersih. Hadir sebagai pemateri Ketua JRKI, Sinam M Sutarno, Ketua KPID Kalbar, Faisal Riza, Aktivis Gemawan, Hermawan dipandu moderator Aceng Mukaram.

Ketua JRKI, Sinam M Sutarno mengatakan, kerja radio komunitas (rakom) adalah sebagai upaya ikut serta melakukan pemberantasan korupsi.

"Satu di antara kerja rakom yakni menyediakan slot waktu siaran 5-10 menit per hari untuk pesan-pesan antikorupsi dan memproduksi pesan-pesan Indonesia bersih," ujarnya.

Penulis : Saiful Bahri
Editor : Arief
2013-04-15
no image

Hasil Hutan Tanpa Merusak Hutan

Kerajinan hasil hutan bukan kayu (HHBK)di Tanah Kayong, merupakan sebuah bentuk dari keterampilan masyarakat dengan memanfaatkan hasil hutan dan mengolahnya tanpa merusak hutan. Tanaman hutan tersebut berupa pandan, nipah, keladi air dan bambu yang selanjutnya diolah menjadi beraneka macam anyaman tikar, Lekar, topi, kursi dan meja. Kerajinan HHBK tersebut digeluti perempuan dan ada juga laki-laki. Para pengrajin tersebut berasal dari Tanah Kayong, lebih tepatnya di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Aneka Anyaman Tikar dari produk hasil hutan bukan kayu tanpa merusak hutan :

User posted image

User posted image

User posted image

User posted image

Motif dan corak anyaman yang mereka anyam adalah motif pucuk rebung dan berbagai motif sesuai dengan keinginan dari pemesan. Anyaman tikar pengrajin berasal dari bahan bukan kayu, yakni bahan pandan (Pandanus spp); pandan Pahang dan pandan laut.

Para pengrajin mengolah lidi nipah (Nypa spp) untuk dijadikan lekar (tempat atau alas alat-alat dapur seperti kuali dan periuk-red) dan hiasan dinding.

Saat ini, para pengrajin atau kelompok pengrajin binaan Yayasan Palung tersebar di beberapa desa di Kabupaten Kayong Utara. Para pengrajin tersebar seperti di Desa Batu Barat, Desa Pangkalan Buton, Desa Harapan Mulia dan Desa sejahtera.

Motif dan corak anyaman yang mereka anyam adalah motif pucuk rebung dan berbagai motif sesuai dengan keinginan dari pemesan. Anyaman tikar pengrajin berasal dari bahan bukan kayu, yakni bahan pandan (Pandanus spp); pandan Pahang dan pandan laut.

By : Petrus Kanisius "Pit"- Yayasan Palung
no image

HHBK, Hasil Hutan Tanpa Merusak Hutan Di Tanah Kayong




Kerajinan hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan sebuah bentuk dari keterampilan masyarakat dengan memanfaatkan hasil hutan dan mengolahnya tanpa merusak hutan. Tanaman hutan tersebut berupa pandan, nipah, keladi air dan bambu yang selanjutnya diolah menjadi beraneka macam anyaman tikar, Lekar, topi, kursi dan meja. Kerajinan HHBK tersebut digeluti perempuan dan ada juga laki-laki. Para pengrajin tersebut berasal dari Tanah Kayong, lebih tepatnya di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Masyarakat KKU sebagian besar masih bergantung secara langsung terhadap hasil hutan dan tinggal di kampung atau desa yang memang berbatasan langsung dengan hutan. SDA di KKU sendiri saat ini masih sangat mendukung untuk kehidupan sehari-hari mereka. Sebagai contoh, bahan baku hasil hutan yang paling sering digunakan untuk keseharian masyarakat KKU seperti rotan, pandan, bemban, nipah dan jenis paku-pakuan. Bahan baku tersebut digunakan untuk membuat perlengkapan masyarakat setempat dalam aktivitas bertani ladang dan menangkap ikan. Sehingga bisa dikatakan masyarakat KKU memang memiliki bakat akan daya seni untuk membuat kerajinan secara tradisional.

Saat ini, para pengrajin atau kelompok pengrajin binaan Yayasan Palung tersebar di beberapa desa di Kabupaten Kayong Utara. Para pengrajin tersebar seperti di Desa Batu Barat, Desa Pangkalan Buton, Desa Harapan Mulia dan Desa sejahtera.

Pengrajin tikar yang secara rutin menganyam tersebar di Desa Batu Barat, Kec. Simpang Hilir dan di Desa Pangkalan Buton di Kec. Sukadana. Hingga kini, mereka rutin memproduksi kerajinan tikar dalam seminggu mampu menganyam 7-10 tikar berukuran besar dan bisa lebih banyak jika berukuran kecil.

Motif dan corak anyaman yang mereka anyam adalah motif pucuk rebung dan berbagai motif sesuai dengan keinginan dari pemesan. Anyaman tikar pengrajin berasal dari bahan bukan kayu, yakni bahan pandan (Pandanus spp); pandan Pahang dan pandan laut.

Para pengrajin mengolah lidi nipah (Nypa spp) untuk dijadikan lekar (tempat atau alas alat-alat dapur seperti kuali dan periuk-red) dan hiasan dinding.


Pemerintah Daerah dan pihak terkait memiliki peran bersama dalam memajukan produk hasil hutan tanpa merusak hutan sebagai potensi pasar yang menjanjikan. Dengan adanya masyarakat yang mengelola hasil hutan bukan kayu berupa bambu, nipah dan pandan masyarakat tidak perlu ke hutan dan merusak hutan lagi.

BY : Petrus Kanisius "Pit"- Yayasan Palung, Ketapang, Kalbar.
no image

Adat, Hutan, Lingkungan dan Manusia : Satu Kesatuan Tidak Dapat Terpisahkan

Jurnalistik Petrus Kanisius


Adat dan lingkungan dalam tananan kehidupan manusia merupakan salah satu unsur yang tidak dapat dihilangkan begitu saja didalam tatanan kehidupan manusia. Adat, hutan, lingkungan dan manusianya terlihat jelas pada masyarakat yang tinggal di sekitar hutan itu sendiri. Secara khusus masyarakat di Pedalaman Kalimantan, di Pedalaman Sumatera dan daerah-daerah lainnya yang masih kental dengan hal ini. Adat tradisi dapat menunjukkan identitas diri terhadap sesamanya, lingkungan dengan manusia dan makhluk hidup dapat beradab dan berkembang biak secara baik. Perhatian akan pentingnya lingkungan dan adat tradisi merupakan hal yang paling utama dan sangat beralasan, dari kedua hal ini kehidupan kita ditentuukan baik pada saat ini maupun dimasa yang akan datang. Inti dari semua ini adalah bagaimana menghargai adat dan tradisi serta lingkungan hidup sebagai pesan yang berkelanjutan dengan demikian budaya dan lingkungan kita tetap lestari selama-lamanya.

Eksistensi Masyarakat dengan Budaya

Sebuah kampung yang jauh dari riuh dan gegap gempita keramaian menjadi penanda Kehidupan mereka sangat terpusat terhadap keseharian mereka dalam menjalankan kebiasaan, tak terkecuali adat dan tradisi menjadi daya tarik budaya yang tidak renta dimakan usia. Kemerdekaan masyarakat akan budaya ini terlihat dari rutinitas masyarakat yang hendak memulai berladang, kegiatan kampung seperti kebersamaan melalui gotong royong masyarakat, seperti membersihkan kampung dari segala penyakit dan sampar mereka sebut acara babantant, tidak hanya itu kemandirian dan kepatuhan mereka terhadap budaya tercermin dari sikap dan perilaku mereka pada saat berinteraksi. Lumbung padi berupa jurung, dan sandung terlihat menjulang berdiri diantara perkuburan yang lainnya. Penghargaan terhadap budaya begitu memberi makna, suguhan dari karakter masyarakat begitu menyatu dan terlihat dengan banyaknya berbagai kegiatan berbau budaya dan tradisi yang hingga kini mereka pertahankan.

Kehidupan masyarakat yang tidak bisa lepas dari adat dan budaya mereka sebagai harapan dan keyakinan akan hidup terus berlanjut asal dengan kata, budaya harus tetap ada. Masyarakat kampung memang sangat nampak dengan jelas untuk memperhatian secara khusus mereka curahkan terhadap budaya mereka dengan budaya dimana mereka berpijak. Kehidupan masyarakat sering beriring dan terus melihat arti adat dan tradisi yang berkaitan dengan budaya. Bagi masyarakat lokal adat dan budaya menjadi simbol kekuatan dalam peran mereka terhadap alam semesta dan jagat raya. Kolaborasi ibarat pemain dan pelatih dalam sebuah tim menjadi satu terlihat mana kala hidup mereka terus di tantang menjadi pertama untuk patuh terhadap budaya yang mereka miliki terhadap perkembangan modernisasi. Aturan dan pantangan membuat masyarakat sadar akan kepedulian dan kebersamaan mereka.

Pepatah kampung setempat mengatakan hidup dikandung adat dan matipun dikandung adat, merupakan perumpamaan yang mana masyarakat masih berpegang teguh pada adat dan tradisi. Kehidupan nyata tak kala masyarakat selalu berhadapan dengan situasi tanah dan air menjadi urat nadi Kehidupan. Kesetiaan dan penghargaan terhadap alam begitu di perhatikan. Adat dan tradisi hadir disetiap sendi keseharian masyarakat, Kehidupan sederhana dan selalu setia terhadap sesama menjadi bukti kecintaan dan kebersamaan mereka. Bukti nyata ini terlihat tak kala setiap ada acara atau kegiatan baik acara suka maupun duka, seluruh masyarakat selalu memiliki rasa untuk membantu.

Budaya sebagai lambang hidup sudah menjadi darah daging bagi mereka, mereka tidak ingin semuanya luntur ditelan jaman. Budaya masyarakat berkebun karet menjadi contoh nyata, Kehidupan masyarakat masih dan sangat tergantung degan hasil karet dan menghargai lingkungan sekitar mereka. Hampir dari semua masyarakat masih menyadap karet. Penghasilan yang tidak terlalu besar namun cukup untuk biaya makan dan biaya sekolah memberi arti tersendiri bagi petani. Kesinambungan hidup mereka tidak terlepas dari berbagai persoalan hidup. Persoalan hidup ini erat kaitnya dengan interaksi dengan sesama, hubungan masyarakat dengan lingkungan. Ritual atau ritus dalam masyarakat memiliki kesinambungan yang berkelanjutan dimana budaya dalam hal ini interaksi manusia sebagai makhluk yang memiliki akal memiliki andil dalam menentukan hidup. Hutan sebagai sumber hidup dan tradisi menjadi penyeimbang dalam Kehidupan menjadikan hal ini tidak dapat dipisahkan.

Keprihatinan dan kesempatan menjadi warna tak kala budaya membaur dan menjadi realita nyata Kehidupan. Budaya yang masih begitu kental dengan semangat kebersamaan. Rona Kehidupan dalam rangkaian seirama dengan tindakan menjadi tanda bahwa budaya adalah nafas hidup masyarakat pedalaman. Hidup di kandung adat mati di kandung adat patut mendapat apresiasi oleh siapa saja. Ini menyangkut harga diri budaya atau masyarakat. Kedekatan budaya seakan menjadi bumbu dalam setiap untaian syukur setiap memulai dan mengakhiri segala kegiatan.

Karet Sumber Hidup

Seiring dengan perkembangan, masyarakat pedalaman (mereka petani karet) di Kalimantan Barat para petani terus berjuang mempertahankan eksistensinya. Mereka ingin merasakan keadilan, karena ada sebuah kesenjangan diantara para petani padahal secara kerja sudah tersedia lahan atau kebun mereka. Yang mengharukan bagi mereka adalah keberpihakan harga terkadang memberatkan mereka. Di tingkat harga masih ada yang sengaja memainkan harga, secara khusus adalah pengusaha. Untuk sementara ini petani karet agak puas dengan adanya harga yang mulai berpihak.
Sebagian besar petani menggantungkan hidup mereka kepada hasil karet. Seperti saat ini harga karet di pasar dunia melambung tinggi, demikian juga harganya di tingkat lokal. Menurut pendangan para petani karet, dengan adanya sedikit peningkatn harga itu sangat membantu untuk pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Biasanya hasil dari penjualan karet digunakan untuk biaya pendidikan anak-anak melanjut ke tingkat SMU dan Perguruan Tinggi. Seperti saya alami, semasa kuliah sampai saat ini orangtua sangat tergantung dengan pertanian karet. Dari sekian banyak orang di kampung saya sebagian besarnya sebagai petani. Ada beberapa poin penting bagi petani karet untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Pertama, secara global masyarakat di daerah pedalaman sebagai salah satu penghasil karet terbesar, karena secara keseluruhan mereka sangat mengarapkan ada perbaikan di tingkat mereka khususnya tarap hidup.
Tarap hidup masyarakat di derah pedalaman kalbar, lebih khusus masyarakat Kabupaten Ketapang sangat membutuhkan perhatian dari berbagai pihak, dengan ansumsi dibutuhkan agen perubahan bagi mereka yang selama ini jarang atau bahkan tidak memperhatikan karet. Seperempat dari wilayah di Kabupaten Ketapang adalah kebun petani karet dan sisanya adalah lahan untuk berladang atau dapat diartikan sebagai petani padi. Dengan mengacu pada harga karet sekarang, mereka secara langsung dapat bertahan dengan semakin meningkatnya kebutuhan hidup. Kedua, sebagai lahan yang ramah lingkungan, karet merupakan lahan yang dapat dikembangkan tanpa merusak lahan atau pencemaran lingkungan. Petani karet pada umumnya adalah mereka yang mengerti dan paham dalam bercocok tanam. Segala kebutuhan memberi harapan yang baik bagi lingkungan dimasa mendatang, mereka ikut menjaga lingkungan sekitar.
Ketiga, dengan peningkatan harga karet paling tidak mampu memberikan imbal balik kepada peningkatan perekonomian masyarakat di daerah.

Peningkatan tarap hidup khususnya para petani memang selayaknya perlu untuk mendapat dukungan dari berbagai pihak. Selain itu juga petani karet memberikan arti penting bagi petani lain untuk terus semangat dan terus berjuang di era ekonomi sekarang yang tidak menentu. Sebagai catatan kita semua, sumber pendapatan terbesar dari masyarakat pedalaman di Kabupaten Ketapang adalah petani karet.
Perjuangan mereka perlu adanya suatu pengelolaan dan kebijakan nyata yang baik, untuk sementara ini Pemerintah daerah sudah mengarah ke ranah masyarakat khususnya petani karet.
Alam dan Masyarakat
Alam semesta, memiliki arti tersendiri bagi kehidupan masyarakat kita, khususnya masyarakat pedalamaman. Alam ibarat seorang ibu yang selalu mendampingi dan menyertai kehidupan masyarakatnya, alam selalu menyertai, setiap tradisi begitu menyatu dengan pola kehidupan. Keselarasan menjadi bukti atau tanda nyata setiap rangkaian kebutuhan sehari-hari. Alam masih sebagai tanda untuk berbagi. Rindangnya pepohonan sebagai rona dan pelengkap dalam proses hidup membaur dan berdampingan. Bukti terciptanya keselarasan. Pembentukan berdasarkan kisah nyata, langkah dan kehidupan seakan tumbuh selaras.
Selama berabad-abad, hubungan antara masyarakat adat dan lingkungannya telah terkikis dengan hilangnya kepemilikan wilayah atau dipaksa pindah dari wilayah tradisional dan lokasi-lokasi penting mereka. Hak tanah, tata guna lahan dan pengelolaan sumberdaya tetap merupakan masalah-masalah kritis bagi masyarakat adat di seluruh dunia. Proyek-proyek pembangunan, penambangan, kegiatan kegiatan kehutanan dan program-program pertanian terus-menerus menyingkirkan masyarakat adat. Kerusakan lingkungan yang terjadi sangat besar: tumbuh-tumbuhan dan berbagai jenis satwa menjadi punah atau terancam punah, ekosistem-ekosistem unik telah hancur, sungai dan tangkapan air lainya telah terpolusi berat. Berbagai varietas tanaman-tanaman komersil telah menggantikan varietas-varietas lokal yang digunakan dalam sistem pertanian tradisional, yang mengakibatkan peningkatan metode pertanian industrial.

Momen penting dalam perjuangan hak-hak masyarakat adat yang terkait dengan lingkungan terlihat jelas dalam Konferensi PBB Mengenai Lingkungan dan Pembangunan (Konferensi Tingkat Tinggi Bumi atau sering disebut KTT Bumi) yang diselenggarakan di Brazil pada 1992. Sejumlah instrumen hukum disahkan dalam KTT Bumi tersebut, antara lain Deklarasi Rio, Agenda 21 dan Konvensi Keanekaragaman Hayati, yang menjadi standar hukum internasional untuk melindungi hak-hak masyarakat adat atas pengetahuan dan praktek-praktek tradisional yang mereka miiliki di wilayah-wilayah pengelolaan lingkungan dan konservasi (dalam Lembar 10 Masyarakat Adat dan Lingkungan hal 1-2). Poin penting dari hasil pertemuan tersebut adalah saat ini kita memiliki kerangka hukum internasional yang mengakui hubungan khusus yang dimiliki oleh masyarakat adat dengan wilayah tradisionalnya.

Penghargaan Masyarakat Terhadap Adat dan Lingkungan; secara jelas bahwa hak-hak warisan leluhur masyarakat adat harus diakui untuk menempati, memiliki dan mengelola wilayah tradisional dan teritorinya semakin bertambah banyak. Banyak negara juga telah membentuk Kementerian Lingkungan dan menyusun Pernyataan dan Strategi Strategi Kebijakan Lingkungan Skala Nasional. Meskipun beberapa pemerintah saat ini telah melakukan konsultasi dengan masyarakat adat menyangkut masalah kepemilikan tanah dan lingkungan, banyak juga pemerintah yang belum membuat peraturan hukum dan kebijakan yang memungkinkan masyarakat adat mengklaim tanah-tanah adat atau mempromosikan partisipasi masyarakat adat dan ancaman hutan saat ini.

Pada tatanan masyarakat kita (khususnya di Masyarakat Pedalaman yang bersentuhan langsung dengan hutan atau mereka yang tinggal dan hidup memilihara dan menjaga hutan), hubungan erat antara lingkungan dan budaya menyangkut masyarakat adat sangat jelas terlihat, seperti misalnya pengargaan masyarakat terhadap tradisi berkaitan dengan berladang. Pada tahapan berladang ini sangat jelas terlihat bahwa adat dan tradisi begitu sangat dijunjung tinggi. Setiap memulai dan mengahkiri kegiatan selalu memakai simbol-simbol adat dan tradisi adat sebagai patokan penghargaan terhadap budaya (adat dan tradisi) dan lingkungan.

Masyarakat adat sangat menghargai lingkungan dan budaya dalam kehidupan mereka sehari-hari berkaitan kebiasaan dan rutinitas. Penghargaan terhadap lingkungan (alam atau hutan) dan tentunya sangat berkaitan. Kedua, Lingkungan dan budaya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Dayak. Mengapa dikatakan demikian, salah satu alasan sudah barang tentu adalah peran lingkungan dan budaya sangat besar dalam kehidupan dan keberlangsungan hidup masyarakat. Ketiga, Penghargaan terhadap lingkungan dan budaya terlihat dari antusias masyarakat adat yang selalu mengadakan tradisi tahunan seperti Gawai Adat Dayak, Naik Dango, Nyapat Taun’t, Babantant (membersihkan kampung dari segala sakit dan penyakit) dan banyak lagi kegiatan lainnya.

Simbol penghargaan terhadap lingkungkan (alam atau hutan) dan budaya sebagai nafas hidup tempat berpijak dan sebagai tindakan nyata di tengah ancaman, himpitan dan perjuangan hidup mereka saat ini. Kondisi lingkungan semakin memprihatinkan alam dan lingkungan semakin rusak, budaya semakin terkikis oleh perkembangan jaman. Harapan satu-satunya adalah tinggal bagaimana kita semua dan bersama untuk selalu menjunjung tinggi nilai budaya dan selalu tanggap. Sebelum terlambat berbuatlah sekecil apapun itu, lingkungan dan budaya akan menghargai kita apabila kita juga menghormati mereka.

By : Petrus Kanisius "Pit"-Yayasan Palung, Ketapang Kalbar.
Back To Top